Beranda Susastra Menyusuri Kota dengan Sastra

Menyusuri Kota dengan Sastra

Selasa, 12 Maret 2019, 15:58 WITA
M. Ichsan Harja Nugraha

ESAI: ALFIAN NAWAWI

Kota-kota selalu memiliki
sastra. Paling tidak bukubuku
sastra dan anak-anak
kandung kebudayaan.
Sebahagian anak-anak itu menekuni
jalan sunyi sastra. Sebahagian lainnya
mencandui kebisingan digital.
Hari ini pembuluh-pembuluh darah
dalam generasi milenial mendominasi
arus pengetahuan multimedia dan
teknologi informasi. Benarkah di sana
sastra pun berbinar? Mengutip Adolfo
Sanchez Vasquez, “sastra lahir dalam kekini-
an dan ke-di-sini-an yang konkret”
(Art and Society, Merlin Press, London,
1973).

Bayangkanlah jika kota kita di harihari
ini hanya akan tertuliskan secara
digital. Atau justru tidak tertuliskan sama
sekali. Ahyar Anwar mengingatkan,
“Kota tanpa sastra adalah kota yang
tidak mempunyai jembatan yang
menghubungkan antara manusia dengan
pengalamannya sendiri. Itulah kota yang
akan berlalu pada waktu dan kehilangan
catatan tentang dirinya. Kota yang tak
pernah tertuliskan! Kota yang hilang dari
bingkai sejarahnya sendiri!”
Jika sastra adalah salah satu urat
darah “pemikiran” maka masyarakat
adalah “tubuh”. Tubuh yang sehat
bisa menghasilkan pikiran cerdas atau
sebaliknya pikiran bodoh. Namun
sesekali kekacauan tatanan dalam
“tubuh” mampu mendesakkan tantangan
pemikiran. “Sastra adalah jalan keempat
menuju kebenaran setelah agama, filsafat,
dan ilmu pengetahuan,” kata Aristoteles.
Bulukumba adalah sebuah kota yang
bisa disusuri dengan sastra –atau buku
sastra– sambil menikmati secangkir
kopi Kahayya. Bulukumba masa silam
adalah juga kumparan tradisi sastra
lisan dan tulisan. Di lain waktu, kota ini
adalah tembok besar bagi imajinasi yang
terkungkung oleh teks-teks bacaan yang
itu-itu saja. Meskipun catatan-catatan
lampau bisa merekam tradisi sastra
“purba” namun ada “jembatan” yang
sudah nyaris runtuh.

Kota ini sejak lama dikepung gadget.
Nyaris tidak ada lagi yang menulis buku
sastra. Kuantitas dan kualitas buku-buku
sastra lagi tidak memadai. Buku-buku
sastra babon tinggal berdebu di rak-rak
koleksi pribadi. Hampir tidak pernah
didistribusikan secara sosial. Meski ada
sekelompok anak muda penggiat literasi
yang kerap membuka lapak baca gratis
di Lapangan Pemuda setiap tanggal 17.
Tapi buku-buku sastra yang bagus di
lapak mereka, bisa dihitung dengan jari.
Sebagaimana ruang-ruang publik
penuh bunga, sesungguhnya para warga
juga membutuhkan banyak diskusi
perihal sastra di pojok-pojok kota.
Dalam diskusi-diskusi sastra itulah
bisa diharapkan terjadi pertemuan
kecerdasan yang bukan sekedar
artifisial.

Selain diskusi, buku-buku memang
harus dibaca. Banyak membaca
adalah latihan untuk berpikir ketat
secara metodik dan koheren. Dari
sanalah pikiran-pikiran otentik akan
menemukan jalannya sendiri. Dari
sana dibutuhkan praduga-praduga liar,
tidak terbatas pada apa yang secara
tekstual tampak. Sembari anak-anak
muda harus lebih sering mencari para
pesastra atau penikmat sastra yang
mau peduli. Terutama kepedulian
mendonasikan buku-buku sastra yang
bagus kepada puluhan rumah baca di
sekujur wilayah Bulukumba. Sikap
peduli seperti ini pernah ditunjukkan
oleh seorang sastrawan dan budayawan
asal Bulukumba, Aspar Paturusi.
Secara berkala buku-buku karyanya
didistribusikan gratis ke berbagai rumah
baca di Bulukumba.

Sastra sepertinya adalah sesuatu
yang renik di kota ini dengan berbagai
peristiwa yang mengikutinya. Dia
bisa berbentuk serubrik sastra di
sebuah koran, bisa berbentuk sebuah
komunitas, diskusi, launching buku,
inovasi digital, lomba menulis cerpen,
hingga baca puisi diiringi musik jazz di
sebuah warung kopi.
Yang kerap menjadi persoalan
adalah nafas peristiwa-peristiwa itu
yang sepenggal-sepenggal. Padahal
jika benar aksi literasi anak-anak muda
adalah juga ruang besar bagi infiltrasi
dari sastra, maka sudah harus ada
peristiwa-peristiwa kecil sastra setiap
hari di warung kopi dan taman kota.
Osiris yang telah mewariskan Kitab
Henockh, menembus melampaui
zamannya, maka kota ini membutuhkan
buku-buku sastra yang banyak. Bukan
hanya karena keharusan berkemas
dan berbenah diri menuju ruangruang
pemikiran yang lebih agresif dan
kontributif. Kota ini membutuhkan
buku-buku sastra yang banyak agar
semakin banyak pesan menembus
ruang-ruang privat generasi yang
terlelap. Kota ini mempunyai jembatan
yang menghubungkan antara manusia
dengan pengalamannya sendiri. Sebuah
kota yang tertuliskan.
Bulukumba, 1 Februari 2019

—————————————–

Biodata Penulis:
ALFIAN NAWAWI adalah
penggiat literasi di Pustaka RumPut
dan Dihyah PROject. Pendiri Forum
Pustaka Bulukumba (FPB) dan
penggagas Gerakan Pojok Baca 137.