Beranda Susastra Sajak-sajak Wawan Kurniawan

Sajak-sajak Wawan Kurniawan

Selasa, 12 Maret 2019, 17:16 WITA

Biar Kau Menutup Rapat Bibirmu Seperti Monalisa

cukup lama kita pandangi luka masa silam;
dan apa lagi yang kau sesalkan – selagi
kita masih berkabung?
sebab kau dan aku lahir dari kekeliruan kemarin
sebelum usai penjelasan panjang tentang hari
saat dunia mengenal kita sebagai sepasang kekasih
yang berbahagia melebihi suka cita pesta tahun baru.
hanya saja aku tak bisa bertanya lebih banyak lagi
pada serangkaian nasib seorang yang merangkul pedih
matamu memandangku – seperti pintu paling bersahaja
menjemput beberapa langkah ragu dari tubuh kurus ini
sementara kau menutup rapat bibirmu seperti Monalisa.
kuulangi pertanyaan sekali lagi sembari memandangimu:
pada mulanya: sesal jauh lebih buruk dari hidup semu ini
dan selamanya kita bertanya pada bisu yang menjelma
di jiwaku, engkaulah ego yang dengan lantang tertawa.
2018

Leda, 1510

dahan patah ingin tumbuh kembali dalam tubuhmu
setelah mengalir melalui sungai panjang yang bicara
pada punggung dan peluk erat di kedua lenganmu
terbuka doa-doa semesta yang tak lagi butuh kata.
2018

Hysteria

Kulihat kau berganda di hadapan cemasku
Langkah ini diserang kram dari segala arah
Jelas terasa bila dadaku menyempit menutupmu
Dan tarikan udara membawamu tiba di hampa
Kau berjalan memecah tubuhku di belakang takutku
Melompati perut dan otot kecilku menuju tiada
Teriak ini menjelma burung kecil yang bertengger
Pada ranting pohon di samping jendelamu yang kelabu
Tepat saat musim tengah melupakan namanya sendiri.
Kudengar suaraku berteriak memanggilmu,
tapi kedua daun telingamu telah jatuh dengan pelan
seperti gugur daun kamboja kering di pekuburan.
2018

Psychosis

Akulah kau yang hilang:
perjalanan paling jauh jiwa,
jalan berubah menjadi wajah
dari apa saja di ingatan
lalu orang-orang pulang
tanpa tanda siapa dan mengapa.
Biar aku memberi
beberapa petunjuk – kau bisa mencariku
pada dinding retak;
pada menara masjid yang belum rampung;
pada pintu gereja yang tertutup rapat;
pada jendela kecil di wihara;
pada lantai di pura;
atau suara angin di klenteng.
Dan kepada tuhan,
aku lupa membesarkanmu!
2018

 

Botol Kosong

tak seorang pun – meski jejak lelaki dewasa
tampak pada tubuh pasir putih ini tetapi
botol kosong ini pastilah dari mulut laut – dia
memuntahkan kegamangan doa para pendosa.
aku membukanya dan tak kutemukan apa-apa
selain aroma kehilangan dan putus asa mencuat
bila saja aku jadi isi yang mampu masuk ke dalam
dan seseorang datang melemparku menuju laut.
barangkali saja, seekor lumba-lumba akan melihat
dan membawaku ke dunia yang lebih luas dan lepas
tapi tak seorang pun – sebab jejak lelaki dewasa itu
mungkin hanyalah kepunyaanku yang kulupa.
2018

Mitologi Pantai Kami

dari bottilangi dewa memandangi ciptaannya,
anaknya setelah tiba sebagai manusia pertama:
memanggil istana megah yang pernah dihuni
di saat warna kelabu langit serupa lantai masa lalu
tahun-tahun melompat menjelma burung kecil
menebas hampa mencipta rintik hujan dari titah
yang berkecamuk di dada serupa retak cermin
mengabarkan buram seseorang di dalamnya.
matahari dipetik dengan ibu jari dan telunjuk
milik dewa yang ingin melihat serpih cahaya
dipecahkan sebagian angkasa demi mendengar
gejolak yang berkejar-kejaran di jiwa sang anak
masih resah – keluh akan bertumpuk jadi satu
kemudian dihempaskan kaca raksasa di bumi
sebelum tiba sinar purnama, bulir cemas –
menjelma pasir yang mencipta jejak pertama
dari takdir panjang tertimbun luka ombak terakhir.
2018

WAWAN KURNIAWAN, menulis puisi, cerpen, dan esai. Buku puisi yang telah terbit Persinggahan Perangai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai Sepi Manusia Topeng oleh Penerbit Nala Cipta Litera. Novelnya Seratus Tahun Kebisuan menjadi pilihan Unnes International Novel Writing Contest 2017. Karya-karyanya dimuat di Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo Makassar, Lombok Post, Harian Fajar Makassar, Tribun Timur Makassar, Serambi Indonesia.