Beranda Susastra Taman Cinta Pak Tua

Taman Cinta Pak Tua

Selasa, 12 Maret 2019, 17:11 WITA

CERPEN: PANGERANG P. MUDA

Uar-uar kabar dari seseorang yang merasa melihat Pak Tua datang dari utara, sontak membuat hening pagi berubah hiruk. Rasa penasaran menyisihkan rasa sangsi bahwa Pak Tua telah lama tiada, membuat orang-orang datang berkerumun. Kematian Pak Tua memang tidak ada yang menyaksikan, tapi bisakah dikira-kira ia masih hidup bila telah berpuluh tahun tak pernah lagi terlihat? Apalagi usianya yang tentu kian sepuh.
Ingatan orang pada Pak Tua yang sudah lucut, kembali terbit. Ia yang telah dikira mati tiba-tiba muncul kembali, betapa mencengangkan! Apalagi dikatakan muncul dari arah utara. Itu wilayah tak berpenghuni kota mereka, bahkan penduduk kota meyakini di sebelah sanalah bagian paling tepi dari bumi yang mereka huni. Tatap mata ke sana hanya mampu melihat tebaran bongkahan batu sebesar gajah, lebih kerap terlihat samar dalam dekap kabut sehingga menyerupai monster sedang terlelap. Mereka yakin, dalam jarak entah berapa ribu depa ke sana tepi bumi berada.
“Pak Tua membawa sekantung … entah apa,” lanjut si penguar kabar megap-megap, membuat pengerumun kian penasaran.
“Sekantung apa?” sergah pengerumun, dan cepat melanjutkan, “Lebih baik kita mencarinya. Pak Tua mungkin kembali ke bekas kiosnya.”
Mereka segera mengurai diri, berlekas mencari Pak Tua. Semua menuju ke bekas kios Pak Tua dan mendapati di sana sedang duduk bersandar. Di pangkuan Pak Tua terlihat ada kantung kain menggelembung penuh.
Orang-orang mendekat, dan rupanya mereka lebih tertarik bertanya, “Apa itu, Pak Tua?” alih-alih menanyakan ke mana saja Pak Tua selama ini.
Pak Tua merogoh isi kantung kain di pangkuannya, meraup segenggam biji-bijian dari dalam kantung, lalu menengadahkan telapak tangan dengan setumpuk biji-bijian tertadah di atasnya. Ia menjelaskan, “Inilah benih terbaik yang pernah ada.”
Beberapa kepala saling-desak melongok isi telapak tangan Pak Tua. Raut muka mereka bergurat bingung.
“Cinta tak lagi dimuliakan di tempat ini,” ujar Pak Tua. “Masa-masa suram sedang mengungkung kita, Nak, dan saatnya kita mencoba menyemai biji-biji ini….”
***

Walau usia sepuh telah melayukan langkahnya, tapi Pak Tua berupaya terus menyeret goyah tungkainya mendatangi tempat-tempat orang berkerumun. Ia menawarkan biji-bijian di dalam kantung kain yang ia bawa untuk disemai. Orang-orang menatap heran, menggeleng-geleng dan tersenyum, sebagian merasa iba menganggapnya telah pikun. Suasana kota sedang panas, digosok kasak-kusuk dan intrik persaingan dua kubu calon walikota, yang dengan cara banal terus berusaha merasuki isi kepala warga dengan propaganda tentang kelebihannya dan kekurangan lawannya, sehingga ulah Pak Tua yang terus pula menawarkan biji-bijian entah apa untuk disemai, membuat warga kota merasa kian sumpek.
“Biji-bijian itu akan tumbuh menjadi apa, Pak Tua?” cibir orang.
“Akan menjadi tumbuhan cinta, Nak,” bijak Pak Tua berkata. Yang mendengar masih belum sepenuhnya paham, ketika Pak Tua melanjutkan, “Kota kita sekarang dihuni orang-orang yang gemar sekali menebar dengki kepada sesama, menebar permusuhan, menebar hujatan. Akibatnya, orang-orang menjadi begitu gampang marah dan saling mencurigai. Saling memusuhi. Kelak biji-biji ini tumbuh, akan menumbuhkan pula cinta di hati kita, Nak.”
Orang-orang malah kian mencibir, menganggap Pak Tua memang sudah pikun.
***

Tidak ada yang tahu siapa namanya. Jauh sebelum kemunculannya kembali, saat ia dan istrinya masih tinggal di kota mereka, orang-orang sudah memanggilnya Pak Tua. Panggilan itu orang padankan saja dengan sosoknya yang memang sudah tua. Bisa jadi orang-orang seusianya ada yang tahu, tapi mereka sudah pada tiada.
Bersama istrinya, ia membuka kios cendera mata. Tidak banyak yang datang berkunjung ke kiosnya. Sepertinya orang enggan saling memberi sesuatu, termasuk hadiah berupa cendera mata. Beruntung Pak Tua memiliki istri yang telaten menjajakan aneka bentuk cendera mata itu, seraya berpromosi, “Ungkapkan rasa cintamu dengan benda-benda ini.” Namun, tetap saja tidak banyak orang mau mengeluarkan uang untuk sekadar ‘mengungkapkan rasa cinta’, bisa jadi yang membeli pun hanya karena kasihan saja.
Kios Pak Tua tidak bertambah ramai disamperi pembeli, malah semakin sepi. Sampai kemudian ada saat tak ada lagi orang datang. Pada masa itu pula, istrinya yang tidak pernah melahirkan anaknya, meninggal karena sakit. Dengan hati galabah, Pak Tua memutuskan menutup saja kiosnya.
Gilas waktu kemudian membuat sosok Pak Tua dilupakan orang. Sejak tak pernah lagi terlihat, ada yang mencetus duga Pak Tua telah pindah ke kota lain, dan di sana meninggal. Sampai berpuluh tahun kemudian, sampai ketika seseorang bersaksi telah melihatnya berjalan dari utara, dengan membawa sekantung biji-bijian.
Sekantung biji-bijian yang Pak Tua jajakan terus saja dicibirkan, malah banyak yang menduga Pak Tua tidak bisa lagi membedakan yang nyata dengan ilusi. Perhatian warga kota lebih tersedot ke bara persaingan dua kandidat wali kota yang berebut pengaruh untuk dipilih, membuat mereka mengacuhkan saja kelakuan Pak Tua, geming pada ajakan menyemai biji-bijian yang dibawanya.
Di suatu sore, merasa putus asa karena tidak juga ada yang berminat menyemai biji-bijian yang dibawanya, Pak Tua memutuskan meninggalkan kembali kota. Ia berjalan ke arah utara, dari arah mana dulu orang melihatnya datang.
Pak Tua tiba di sebuah tanah kosong. Batas kota masih ratusan langkah berjarak. Merasa amat lelah, ia mampir duduk bersandar di batang pohon yang dijadikan orang sebagai penanda batas tanah. Beberapa jenak kemudian kepalanya terkulai. Simpul kantung kain di pangkuannya terbuka, meruahkan biji-bijian isinya ke tanah, sebagian menggelinding terbawa angin. Lama baru ada pejalan kaki yang melintas melihatnya, dan menemukan orang tua itu telah meninggal.
***

Selayaknya orang sakti yang telah tiada, misteri tentangnya tentu banyak bermunculan. Demikian pula sosok Pak Tua; sejak di tempat ia duduk menemui ajal itu tumbuh tanaman yang merombong, dan setiap hari memunculkan bunga beraneka warna, cerita tentangnya tak henti dipercakapkan.
Ihwal tempat itu lalu disepakati warga kota menamainya Taman Cinta, karena beberapa kejadian yang menyertai, di mana setiap orang yang datang ke sana akan merasakan suasana berbeda. Gerumbun tanaman bunga itu memancarkan aura yang membuat senang, membuat perasaan begitu damai. Sekadar rasa gundah, gulana, atau malah amarah, bahkan rasa dengki, bila berlama-lama di situ akan perlahan menguap.
Warga kota yang merasa betapa ajaibnya tempat itu, lalu bersepakat melarang pengunjung memetik bunga-bunga yang tumbuh di situ. Pengunjung hanya diperkenankan duduk-duduk mengitari, seraya merasai bagaimana tanaman-tanaman penuh bunga itu menyerap aura buruk yang sedang merasuki hati.
Orang-orang yang tinggal di kota yang diceritakan ini, lalu memiliki kebiasaan: bila bertikai, mereka segera menyelesaikannya di dalam area taman. Di tempat itu letik rasa permusuhan akan terserap oleh tanaman yang ada di sana. Orang-orang kian takjub, melihat bagaimana sepasang kekasih atau suami-istri yang sedang bertengkar, atau orang-orang yang sedang saling-umpat, saat sudah berada di dalam area taman, beberapa jenak kemudian akan saling memesrai dan berbaikan kembali.
Decak takjub pada keajaiban Taman Cinta peninggalan Pak Tua, yang terus dibincangkan, memarakkan anggapan bahwa Pak Tua sebenarnya orang sakti. “Patut kita duga, di tepi bumi sebelah utara kota kita itulah tempat bermukim Pak Tua selama ini. Tentu di sanalah tanaman cinta itu ia bibitkan,” simpul orang-orang; dan yang dulu bersaksi melihatnya berjalan dari utara, dari mana cerita ini bermula, melengkapi pula kesaksiannya, “Ya, saya ingat; dulu saat melihatnya datang dari utara, Pak Tua tidak berjalan. Ia melesat, seumpama batu yang dilepas dari tarikan karet ketapel.” ***


Biodata Penulis:
PANGERANG P. MUDA
Menulis cerpen di beberapa media.
Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit: Menghimpun Butir Waktu (2017), Svetsna (2018), dan dalam proses terbit Tanah Orang-Orang Hilang. Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.