Beranda Bantaeng Manajemen RSUD Segera Tindak Lanjut Dugaan Malapraktek

Manajemen RSUD Segera Tindak Lanjut Dugaan Malapraktek

•  Penulis : | Senin, 1 Juni 2020, 13:20 WITA

BANTAENG, RADAR SELATAN — Seorang pasien berinisial NU (36) melapor ke Polres Bantaeng usai menjadi korban malapraktek di RSUD Bantaeng oleh salah satu dokter kandungan berinisial IN.

Pasien asal Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto itu merasa dirugikan setelah melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit tersebut.

Advertisement

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Bantaeng, dr Hikmawaty menuturkan bahwa pihaknya segera lakukan tindak lanjut atas kabar yang beredar terkait dugaan malapraktek itu.

“Kami di RSUD sangat respon terhadap berbagai keluhan ataupun masukan tentang layanan. Kami menyediakan unit khusus untuk menangani pengaduan ataupun permasalahan layanan,” kata kata dr Hikmah, sapaan karibnya saat dihubungi, Senin, 1 Juni 2020.

Dia menjelaskan, langkah awal yang akan dilakukan yaitu investigasi dan verifikasi, serta melakukan koordinasi dengan pihak komite medik.

“Sebenarnya kami belum dapat laporan atas dugaan malapraktik itu, namun pada prinsipnya menanggapi bahwa kami dari pihak manajemen akan segera menindaklanjuti. Insya Allah kami rencanakan Selasa (2/6/2020) besok akan segera kami tindaklanjuti,” katanya.

Saat ini pihaknya belum bisa memberikan informasi lebih mendalam dugaan malapraktek ini. Sebab ada indikator tertentu sampai seorang dokter bisa dinyatakan malapraktek.

Seperti diketahui, korban inisial NU bersama suaminya telah melaporkan hal ini kepada pihak Kepolisian setempat dengan nomor LP/146/V/2020/SPKT tertanggal 30 Mei 2020 dengan perkara Malapraktik di RS Anwar Makkatutu Bantaeng.

Kepala Kepolisian Resort Bantaeng, AKBP Wawan Sumantri saat dihubungi membenarkan hal itu. Sejauh ini pihaknya masih mendalami laporan tersebut.

“Iya, kita tangani. Laporan diterima hari Sabtu (sekira) jam 23.00 wita. Kita lidik dulu,” kata Wawan Sumantri kepada Radar Selatan.

Mengenai sanksi secara hukum jika saja terbukti melakukan malapraktek, eks Kapolres Sigi Sulawesi Tengah ini belum bisa menjelaskan lebih jauh.

“Kita dalami dulu,” tulisnya via pesan singkat WhatsApp.

Kronologi Korban Dugaan Malapraktek di RSUD Bantaeng

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban dugaan malapraktek tersebut memeriksakan kehamilan pertama kali tanggal 12 Mei 2020 karena terjadi pendarahan.

Menurutnya oknum dokter berinisial IN, menyebut bahwa kandungan NU tak bisa diselamatkan hingga diputuskan untuk dilakukan kuretase atau prosedur pengambilan jaringan dalam rahim.

“Dia sendiri yang mengatakan janin tidak bisa lagi diselamatkan, hari berikutnya dia malah tidak mengenali saya sebagai pasiennya saking tidak percayanya wajahku difoto, loh kan aneh,” kata NU.

Setelah beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis, 28 Mei. NU dan keluarganya kembali cek kesehatan di RSUD Bantaeng. Namun saat itu ia ditangani dokter kandungan lain yang tengah piket.

Saat itu pula NU mendapati informasi detail bahwa masih ada janin yang tersisa di rahim padahal sudah dilakukan kuret.

“Pas tanggal 28 itu saya diperiksa dokter lain dan saya kaget karena dokter itu bilang masih ada sisa janin di rahim,” kata NU.

Atas kejadian itu, NU dan suaminua akhirnya melaporkan secara resmi dugaan malapraktek ke Mapolres Bantaeng. (*/Sid)