Beranda Hot News Romantisme Para Pejuang di Warkop 45 Bulukumba

Romantisme Para Pejuang di Warkop 45 Bulukumba

Minggu, 26 Juli 2020, 16:50 WITA

Laporan: Sunarti Sain

RADAR SELATAN — Warung Kopi atau warkop sangat identik dengan obrolan politik. Di Bulukumba, ada warkop legendaris yang konon adalah warkop pertama di kota ini. Namanya Warkop 45. Dulu, di bilik kecil dalam ruang warkop inilah para pejuang kerap bertemu dan berdiskusi.

Warkop 45 pada masa-masa awal kemerdekaan bernama Rumah Kopi. Sekarang kita mengenalnya dengan nama Warkop 45. Nama ini dipopulerkan pemiliknya, Musakkir Ismail (61) karena di sinilah para pejuang kemerdekaan kerap berkumpul dan berdiskusi.
Penulis tertarik mengenal lebih jauh Warkop ini. Bersama kawan Rifa Kinanggi, kami melakukan ekspedisi kecil-kecilan. Berkeliling warkop dan merasakan sensasi minum kopi di tengah riuhnya percakapan politik.
Warkop 45 yang terletak di Jalan Monginsidi Kabupaten Bulukumba, kini mulai berbenah. Beberapa bagian direnovasi. Tapi sejumlah sudut rumah yang membawa kita pada sejarah masa lalu tetap dipertahankan. Seperti pintu kayu, jendela, dan ruangan kecil di lantai satu yang hanya memuat empat meja.
Musakkir adalah generasi kedua yang mengelola warkop ini. Dari 13 bersaudara, empat diantaranya menjadi penerus keahlian meracik kopi sang ayah, Ismail Midsi.

Di Kabupaten Bulukumba, Ismail Midsi juga dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan dan tokoh veteran Bulukumba.
Musakkir sendiri tidak ingat persis kapan rumah kopi didirikan oleh ayahnya. Saat itu ia masih sangat kecil. Diperkirakan rumah kopi ini sudah ada sekitar tahun 50-an. Yang pasti, terekam jelas dalam memorinya, Rumah Kopi sang ayah menjadi tempat berkumpul para pejuang. Saat itu Indonesia baru saja merdeka. Kondisi politik masih bergejolak. Rumah Kopi dibuka hanya sampai sore karena tak ada lampu atau pelita.
“Ini dulu kan area pasar. Jadi ramai kalau pagi. Saya memang sejak kecil membantu bapak saya meracik kopi,” kata Musakkir yang ditemui di Warkop 45 belum lama ini.

Karena membantu menjaga dan meracik kopi lah, Musakkir memilih tidak melanjutkan pendidikannya. Meski tak tamat SMP, Musakkir bangga karena bisa melihat adik-adiknya tetap bersekolah.

TENANG. Suasana Warkop 45 di malam hari.

“Kondisi ekonomi saat itu tidak memungkinkan kami semua bersekolah. Saya mengalah demi adik-adik,” katanya sambil tersenyum.
35 tahun lalu, Musakkir sempat merantau ke Kalimantan. Dan selama di perantauan, warkop dikelola oleh adiknya, Catir yang kini membuka sendiri warkop di Jalan Garuda. Musakkir baru kembali ke Bulukumba dua tahun terakhir ini dan kembali mengurus sendiri Warkop 45.
Warkop 45 tak pernah sepi pengunjung. Warkop ini dikenal langganan pejabat di Pemkab Bulukumba. Juga politisi dan aktivis. Mungkin karena kesejarahannya. Tapi Musakkir mengaku satu hal yang ia pertahankan adalah pelayanan dan kenikmatan dalam setiap cangkir kopi yang ia bandrol mulai Rp 5000 per gelas.

“Saya kalau salah meracik kopi sampai tidak bisa tidur. Makanya sudah keharusan bagi saya memberikan yang terbaik untuk setiap pelanggan,” ujarnya.
Setiap hari, pukul 04.00 Wita ia sudah bangun untuk mempersiapkan warung kopinya dibuka. Setelah menunaikan salat Subuh , pintu warkop dibuka dan siap menyambut para penikmat kopi yang baru pulang dari masjid.

“Pagi biasanya sudah ramai karena pelanggan rata-rata mampir usai salat subuh di masjid.” Saat pagi itulah, peganan tradisional ia siapkan sebagai pendamping kopi. Ada dadar, surabi dll.
Salah satu pelanggan setianya adalah Ruslan yang akrab disapa Juragan. Ia juga kerabat dekat Musakkir. “Saya minum kopinya memang di sini. Dari dulu,” katanya.
Pak Juragan juga memuji cara Musakkir meracik kopi yang ia sebut mewarisi keahliannya bapaknya. (***)

LEGENDA. Musakkir tengah menyeduh kopi di Warkop 45, Bulukumba.