Beranda Gowa Kajari Gowa Yeni Andriani; Sejak Mahasiswa Bercita-cita Jadi Jaksa

Kajari Gowa Yeni Andriani; Sejak Mahasiswa Bercita-cita Jadi Jaksa

•  Penulis : | Jumat, 20 November 2020, 17:00 WITA

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Gowa, Yeni Andriani.

GOWA, RADAR SELATAN — Awal Juni 2020 lalu, Yeni Andriani dilantik oleh Kejati Sulsel menduduki jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Gowa. Yeni sendiri bukanlah orang baru di Kejaksaan Sulawesi Selatan. Sebelumnya ia pernah menduduki jabatan penting, mulai dari Koordinator Bidang Pidana Khusus Kejati Sulsel hingga menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Pangkep tahun 2013 lalu.

Advertisement

Ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Pengawasan di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, hingga menjabat sebagai Kajari Kendal Jawa Tengah.

Sejumlah jabatan penting yang diemban oleh wanita berkacamata dan sosok yang dikenal ramah ini penuh perjuangan dan perjalanan panjang.

Sempat tidak mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya, Yeni Andriani tetap optimis dengan cita-citanya menjadi seorang penegak hukum.

“Saya berangkat ke Jakarta untuk tes tanpa ada dukungan penuh dari orang tua. Tapi saya sudah niat untuk berjuang meskipun sendirian. Alhamdulillah, selama 9 bulan menjalani test, akhirnya saya dinyatakan lulus dan mendapat SK dari Kejari Makassar. Dari situlah keluarga semakin mendukung. Ternyata inilah cita-cita saya,” kata Yeni Andriani kepada Radar Selatan, Kamis 19 November 2020.

Alumni S2 Universitas Hasanuddin Makassar ini bercerita awal mula ia tertarik untuk menjadi seorang jaksa sejak menjadi mahasiswa.

“Waktu kuliah dulu saya memang sering ke Pengadilan Negeri hanya untuk melihat persidangan. Saya senang melihat Jaksa bersidang,” tuturnya.

Yeni mengungkapkan, meskipun bukan lahir dari keluarga jaksa, namun ia tertarik untuk menjadi penegak hukum.

“Orang tua awalnya ingin saya jadi Tentara. Karena mereka pensiunan TNI. Tapi saya tidak mau. Saya lebih tertarik di bidang pidana. Sehingga ingin menjadi penegak hukum,” ungkapnya.

Ditanya terkait tantangan menjadi Kepala Kajari ditengah-tengah jaksa yang didominasi oleh laki-laki, Yeni mengatakan saat ini di Kajari Gowa justru mendapat tantangan berbeda. Sebab di Kajari Gowa, jaksa justru didominasi oleh perempuan.

“Jaksa di Kajari Gowa ada 17 orang. 14 orang perempuan dan 3 laki-laki. Tantangan memimpin perempuan lebih berat. Karena perempuan di sibukkan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan di kantor. Sehingga Kajari harus memahami hal tersebut,” katanya.

Sementara terkait kasus yang ditangani selama di Kajari Gowa kata Yeni, hampir 80 persen nya adalah kasus narkotika. Ada juga kasus korupsi yang sudah ditingkatkan ke penyidikan dan satu ke persidangan.

“Lima orang terpidana sudah saya eksekusi,” bebernya.

Kasus lain yang ditangani tambah Yeni, ada lima kasus anak. Kasus anak ini kata dia wajib dilakukan diversi.

“Jika para pihak anak saling berdamai, maka kami lakukan dan kasus bisa dihentikan sesuai restoratif justice,” pungkasnya. ***