Beranda Bulukumba Rabaiya, Lansia Terlantar Dipelihara Tetangga

Rabaiya, Lansia Terlantar Dipelihara Tetangga

•  Penulis : | Kamis, 26 November 2020, 17:20 WITA

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Permasalahan hidup yang dialami lansia Rabaiya teramat kompleks. Sudah menahun terbaring sakit dan hidup dari simpati tetangga dan masyarakat.

Nama Rabaiya belakangan menjadi perbincangan di sosial media. Dia merupakan wanita 77 tahun, dan salah satu lansia yang masuk dalam daftar penerima bantuan sembako di Dinas Sosial Kabupaten Bulukumba. Dua tahun lebih pemerintah menyalurkan bantuan berupa beras dan telur untuknya setiap bulan. Tapi masalah Rabaiya tak hanya pada soal kemiskinan saja.

RADAR SELATAN mengunjunginya, Rabu 25 November 2020, didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Anak, Disabilitas dan Lansia, Rahmat, serta kepala lingkungan setempat. Perempuan renta itu tinggal di Lingkungan Batuppi, Kelurahan Tanah Kongkong, Kecamatan Ujung Bulu. Di pusat pembuatan batu merah. Seperti biasanya Rabaiya terbaring lemas sepanjang hari di ruang tengah rumah panggung yang jauh dari kata sederhana.

Di usia senja, Rabaiya hanya bisa merenungi takdirnya. Ujian yang dilaluinya seolah tak ada habisnya. Kondisi perekonomian sangat buruk. Ia juga sudah sakit-sakitan. Belum lagi permasalahan keluarga. Rabaiya mengaku terlantar sejak tak lagi bisa menghasilkan rupiah.

Wanita kelahiran 1943 itu terbaring dengan kondisi kaki terlipat dan tak bisa lagi diluruskan. Sudah lama dia tak bisa berjalan. Tubuhnya kurus kerempeng. Suaranya lemah. Hanya kedua tangan yang bisa digerakkan sembari menunjuk bagian sakit di tubuhnya. Kini dia tinggal di rumah Aminah, tetangganya dan dirawat oleh keluarga itu.

Aminah, yang bersedia menampungnya juga merupakan masyarakat miskin yang hidupnya bergantung dari penghasilan bekerja sebagai buruh batu merah. Rumahnyapun hanya menumpang di tanah orang.

“Kasian juga dia tinggal sendiri, tidak ada yang rawat. Kalau di sini kami masih sempat memperhatikan makannya dan buang airnya,” ujar Aminah, yang berbesar hati merawat Rabaia beberapa tahun belakangan.

Dari cerita Aminah, Rabaiya dulunya merantau ke Malaysia namun usianya sudah tua, sehingga kembali ke Bulukumba. Berdasarkan alamat kartu identitasnya, sebelumnya tinggal di Kelurahan Kasimpureng. Dia bekerja serabutan, mulai dari tukang cuci hingga pengumpul kayu bakar. Apapun dilakukan yang bisa menyambung hidupnya. Saat itu menjanda dan tinggal sendiri.

Sejak dari Malaysia, dia memiliki benjolan kecil di dahinya. Seingatnya karena terbentur namun benjolan itu berkembang seiring waktu. Kini sudah sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Beberapa tahun belakangan dia mulai sakit dan tak bisa lagi bekerja. Rabaiya yang malang pun ditelantarkan dari Kasimpureng ke Batuppi. Saat itu dia dipelihara oleh seseorang hingga bertahun lamanya sebelum dia kembali terlantar.

“Pertama kali dia di sini, masih bisa ngesot tapi sekarang kita lihatmi langsung cuma bisa baring,” kata Aminah.

Sebenarnya, Rabaiya bukan tak punya keluarga. Dia ibu dengan satu anak dan sudah punya cucu. Namun kata warga anaknya mengalami sedikit gangguan kejiwaan.

Kondisi sakit yang dialami Rabaiya mendapatkan perawatan dari Puskesmas Caile melalui “Home Care”. Petugas sudah tiga kali datang memeriksa kondisinya, meskipun obatnya masih ada. Komunitas peduli kemanusian juga kadang berkunjung menyalurkan bantuan.

Aminah dengan keterbatasannya, berusaha merawat Rabaiya sepenuh hati meski tak punya hubungan keluarga. Tak hanya memperhatikan soal makan minumnya, tapi juga kebersihan dan termasuk saat lansia itu buang air besar atau kecil.

“Kalau buang air dicebok, untung ada bantuannya itu buat dibelikan pokok dan tissu basah,” ujarnya.

Rabaia bisa saja mendapatkan perawatan medis di rumah sakit atas dampingan pemerintah daerah. Hanya saja yang menjadi persoalan, dia bersikeras tak mau dirawat di fasilitas kesehatan. Hal itu mengingatkan pada almarhumah kakaknya.

“Saya dua bersaudara. Kakakku sakit dan dibawa ke rumah sakit, tiga hari disana dia meninggal, jadi ampunka saya kalau ke rumah sakit,” tolak Rabaia.

Jika berhasil dibujuk, kendala Rabaiya jika di rumah sakit tak ada yang mengurusnya. Aminah dan keluarganya punya pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, sementara keluarnya pun tak ada yang menyanggupi. ***