Beranda Hot News Duka H. Sabar Kehilangan 3 Putri dan 2 Cucu Akibat Gempa

Duka H. Sabar Kehilangan 3 Putri dan 2 Cucu Akibat Gempa

Sabtu, 23 Januari 2021, 6:36 WITA

H. Sabar di antara reruntuhan rumah besarnya.

H. Sabar benar-benar sedang dalam ujian kesabaran. Ia adalah korban gempa Sulbar yang cukup parah. Tidak hanya kehilangan harta dan rumah mewahnya yang ambruk rata dengan tanah. H. Sabar pun kehilangan 3 putrinya sekaligus dan 2 cucu kesayangannya.
H. Sabar sendiri nyaris diamputasi. Ia menunjuk kaki kanannya. ”Ini lukanya,” katanya. Tampak ada luka gores yang memerah di sana.

Luka itu adalah gambaran kelam sekaligus kedukaan Sabar. Ia tidak pernah bisa melupakan kejadian Jumat dini hari 15 Januari lalu.

Meski bisa dari maut setelah tertimbun reruntuhan rumah selama 12 jam, tapi dukanya menganga tak terkira karena kehilangan tiga anak dan dua cucu dalam musibah tersebut.

Padahal, pada Kamis malam sebelum gempa itu, pengusaha yang biasa disapa Haji Sabar tersebut bahagia sekali. Anak-anak dan cucu-cucunya datang berkunjung dan menginap di rumah megah empat lantai miliknya.

Dan, seperti biasa, tiap kali menginap, mereka memilih tidur beramai-ramai di kamar besar yang biasa ditempati Sabar. Ada Ririn, Suarti, dan Dian. Ketiganya putri-putri H. Sabar. Juga, cucu-cucu pemilik kelompok bisnis “Usaha Rappang” itu. Ada Nabila, Keisa, dan Naila.

Haji Cammono, saudara H.Sabar, juga menginap malam itu. Tapi, di ruangan berbeda.

”Anak-anakku memang kalau datang pasti di kamar saya. Kan luas, ada AC juga. Mereka suka karena dingin,” kenang H. Sabar saat ditemui 17 Januari.

Malam yang menggembirakan itu pun berlalu. Mereka bertujuh tertidur lelap di ruangan 10 x 10 meter tersebut setelah bercanda dan saling bercerita. Bahkan satu cucunya, Naila tidur dalam dekapan sang kakek.

Tiba-tiba gempa itu datang. Seketika rumah berlantai empat tersebut ambruk. Sabar dan Naila selamat. Tapi, mereka tertimbun reruntuhan. H. Sabar mengaku sudah pasrah ketika itu.

Selama 12 jam H. Sabar berada di balik puing-puing rumahnya. Mulai pukul 02.28 sampai sekitar pukul 14.00 Wita. Hampir dua belas jam. Tak bisa bergerak, sambil terus berusaha menenangkan Naila yang masih ada dalam dekapannya.

Sampai pada titik itu, dia tak tahu bagaimana nasib cucu-cucunya yang lain, juga anak-anaknya. Upayanya, dengan suara lemah, memanggil nama-nama mereka, tak berjawab.

Di tengah kepasrahan itu, harapan datang. Tim penyelamat menyusuri reruntuhan rumahnya dan mereka mengetahui Sabar masih selamat.

Masalahnya, kaki Sabar terjepit reruntuhan. Tim penyelamat kesulitan untuk mengevakuasi. Hanya ada celah sedikit.

Sabar pun meminta bor, berupaya melepaskan kaki kanannya yang terjepit puing. Kakinya lolos. Tim penyelamat lalu menggali reruntuhan agar ada celah untuk mengevakuasi.

”Saat mau dievakuasi, ada yang menyarankan kaki ayah diamputasi karena posisinya sulit. Tapi, ayah menolak,” kata Iin Syarif, putri Sabar lainnya.

Sabar dan Naila akhirnya berhasil diselamatkan. Begitu juga H. Cammono yang ada di ruangan sebelah.

Tapi, persis pada titik kelegaan itu pula, kedukaan menyeruak. Sabar diberi tahu bahwa Ririn, Suarti, Dian, Nabila, dan Keisa meninggal.

”Lima orang yang meninggal, anak-anak dan cucu-cucuku. Perempuan semua,” katanya dengan suara menahan isak.

Padahal, baru setahun lalu dia juga ditinggal istri tercintanya, Hj. Rugayah, yang berpulang karena kecelakaan. Sempat beredar kabar bahwa H. Sabar kehilangan delapan anggota keluarga akibat tertimbun reruntuhan. Tapi, Iin membantah.

”Tolong diluruskan, yang meninggal lima, tiga saudara saya dan dua kemenakan saya,” katanya.

H. Sabar masih menjalani perawatan akibat lukanya sampai kemarin. Duka mendalam tentu masih menggelayut, tapi dia tetap berusaha bangkit. Meski tentu tak mudah. Luka di kaki kanan itu terus menjadi pengingat akan musibah yang merenggut orang-orang terkasihnya.

Kini, di tengah duka keluarganya, H. Sabar masih meenyempatkan ikut membantu korban gempa dengan membagi-bagikan kebutuhan pokok kepada warga Mamuju dan Majene. ***