Beranda Bulukumba Petani Keluhkan Harga Pupuk Subsidi Lebihi HET

Petani Keluhkan Harga Pupuk Subsidi Lebihi HET

•  Penulis : | Rabu, 13 Januari 2021, 6:25 WITA

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Petani di Desa Bukit Harapan Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba mengeluhkan kenaikan harga pupuk bersubsidi. Sudarman (30) selaku petani mengaku membeli pupuk subsidi di salah satu pengecer dengan harga Rp 120.000 sampai Rp 125.000.
“Saya beli pupuk dari pengecer di kota (Kota Kabupaten Bulukumba, red) harganya itu 120 ribu kalau kita sendiri yang angkut, kalau diangkutkan 125 ribu,” ungkapnya, Selasa, 12 Januari 2021.
Pria yang akrab disapa Yuda itu mengaku mendapatkan jatah empat sak pupuk subsidi jenis urea untuk sekitar 1 hektare sawahnya yang ditanami padi.
Di lain tempat, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) Kabupaten Bulukumba, Idam menguraikan, harga eceran tertinggi (HET) untuk pupuk subsidi antara lain, Urea Rp. 2.250 perkilogram atau Rp. 112.500/sak (1 sak = 50 Kilogram).
Lanjut, untuk pupuk jenis ZA Rp. 1.700/Kg atau Rp. 85.000/sak, SP-36 Rp. 2.400 atau Rp. 120.000/sak, NPK Phonska Rp 2.300/Kg atau Rp. 115.000/sak, dan Petroganik Rp. 800/Kg atau Rp. 32.000/sak.
Terkait adanya keluhan petani yang mengeluhkan harga pupuk subsidi yang melebihi HET, menurut Idam keluhan tersebut mesti dikroscek. Karena harga HET yang ditentukan itu diluar dari biaya angkut, sehingga biasanya pengecer yang didapatkan menjual pupuk subsidi dengan dengan harga di atas HET itu karena dihitung dengan biaya distribusi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan distributor agar para distributor memperbanyak pengecer.
“Kami sudah ketemu dengan distributor, kami meminta agar pengecernya diperbanyak agar mengurangi biaya distribusi, sehingga tidak ada lagi yang ditemukan pupuk yang dijual di atas harga HET,” terangnya.
Sementara itu, salah satu distributor resmi pupuk subsidi di Kabupaten Bulukumba, Hj. Hamrawati, mengaku, bahwa pihaknya tidak pernah menjual pupuk subsidi di atas harga HET.
“(Harga jual pupuk subsidi)120 ribu? Ahh, tidak ada itu, setahu saya pengecer menjual sudah sesuai harga eceran,” elaknya.
Selain itu, Hamra juga memastikan bahwa sejauh ini stok pupuk masih tersedia. Untuk di gudangnya sendiri, menurutnya masih terdapat 10.000 sak pupuk subsidi yang siap didistribusikan ke pengecer.
Sebelumnya, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kabupaten Bulukumba, melalu Kepala Seksi Pupuk dan Alsintan, Mappaenre, juga mengatakan bahwa ketersediaan pupuk subsidi bakal terpenuhi sepanjang tahun 2021.
“Kami sampaikan pertama, pupuk tidak langka di kabupaten Bulukumba, ini poin yang harus digaris bawahi,” Senin, 11 Januari 2021.
Pupuk non subsidi, sambung dia bisa dibeli dimana-mana dan bebas, sedangkan untuk subsidi sendiri sedang dalam tahap penyaluran atau DO oleh masing-masing distributor di kecamatan.
“Penyaluran pupuk subsidi tentu ada proses yang dilalui karena pupuk subsidi merupakan barang yang diawasi jadi tidak serta merta, kapan tidak sesuai prosedur kami yang kena dampak hukum apalagi ini tanggal baru dan tahun baru, tapi sekali lagi kami tekankan tidak ada kelangkaan pupuk,” tegas Mappaenre.
Dinas juga telah menerbitkan surat keputusan (SK) yang diteruskan ke dinas perdagangan Bulukumba untuk pengawasan.
“Yang perlu juga digaris bawahi, kami Dinas Pertanian setelah menetapkan alokasi kuota dan harga eceran tertinggi maka proses penyediaan dan ketersediaan pupuk ditingkat pengecer, tingkat petani, atau lini empat leading nya berada di dinas perdagangan. Kami sudah keluarkan SK jadi bukan lagi leading kami. Perdagangan lah yang mengawasi, pupuk tersedia untuk petani atau tidak,” sambung Mappaenre.
Jatah stok pupuk untuk Bulukumba sendiri di tahun 2021 mencapai 100 persen dari pusat dengan rincian sebanyak 16.196 ton untuk jenis Urea, 1.651 ton jenis SP-36, 2069 ton jenis ZA, dan 2135 jenis NPK. Untuk organik jenis Granul sebanyak 1083, jenis organik cair 2708.
“Alhamdulillah tahun ini (2021) Bulukumba dapat 100 persen, Itu sudah sesuai RDKK atau permintaan petani yang diusulkan tempo hari dan kami meyakini ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan petani sepanjang tahun, jadi di mana yang dimaksud langka,” jelas Mappaenre.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa untuk tahun 2021 ini harga pupuk subsidi mengalami kenaikan.
“Memang tahun ini ada kenaikan, umumnya pupuk subsidi itu dijual perkilo, untuk Urea tahun lalu Rp1.800 perkilo, tahun ini Rp2.250. Untuk perkarungnya Rp.112.500.
Jenis SP-36, tahun lalu Rp 2000 perkilo, tahun ini, Rp 2400, perkarungnya Rp120.000, Jenis, ZA Rp 1.400 tahun lalu, saat ini Rp 1.700, perkarungnya Rp85.000. Jenis Organik dari Rp500 saat ini menjadi Rp 800, perkarungnya Rp.32.000. Dan itu berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) no 49 tahun 2020,” tutup Mappaenre. ***


Daftar Kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Subsidi:

• Urea: dari Rp 1.800 perkilogram menjadi Rp 2.250 perkilogram

• ZA: dari Rp 1.400 perkilogram menjadi Rp 1.700 perkilogram

• SP-36: dari Rp 2000 perkilo menjadi Rp 2400

• Organik: dari Rp500 saat ini menjadi Rp 800.

(Sumber: Disdagprin Kabupaten Bulukumba, Selasa, 12 Januari 2021)