Beranda Adaptasi Baru Vaksin Covid-19, Antara Harapan dan Realita

Vaksin Covid-19, Antara Harapan dan Realita

Sabtu, 23 Januari 2021, 6:08 WITA

Oleh : Bambang Budiono, Dokter Spesialis Jantung,
Pemerhati Kesehatan, Tinggal di Makassar

SAMPAI artikel ini ditulis, lebih dari 96 juta orang terkonfirmasi positif, dan lebih dari 2,06 juta orang di seluruh dunia telah tewas karena COVID-19. Jumlah itu akan terus bertambah, karena setiap hari tercatat puluhan ribu kasus baru, sekitar 13.500 diantaranya korban meninggal. Virus korona baru yang telah bermutasi, dilaporkan menyebabkan penularan menjadi jauh lebih mudah dan cepat sehingga angka kasus terinfeksi diprediksi akan melesat naik, meskipun banyak ahli menduga bahwa mutasi itu tak akan membuatnya menjadi lebih mematikan. COVID-19 telah membuat dunia porak poranda, tak hanya masalah korban nyawa dan kecacadan yang ditimbulkan, namun juga timbulnya ancaman resesi berkepanjangan. Semua orang kini fokus dan amat berharap agar vaksin COVID-19 bisa menjadi juru selamat, dan akan mengakhiri pandemi. Harapan yang boleh dikatakan terlalu berlebihan.

Platform Vaksin COVID-19
Lebih dari 240 jenis kandidat vaksin dengan berbagai platform telah diteliti, ada yang masih di tahap penelitian laboratorium dan binatang coba, ada juga yang telah mencapai uji klinis tahap 1, tahap 2 dan, tahap 3, bahkan 5 kandidat diantaranya telah memperoleh rekomendasi untuk penggunaan luas di masyarakat berdasar ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan di Negara masing masing berdasar ‘emergency used authority’. Kenapa demikian banyak uji klinis dengan berbagai platform ? Karena kita tak tahu vaksin yang mana akan berhasil memperlihatkan efikasi dan efektifitas hingga bisa memberikan efek perlindungan jika dilakukan penggunaan massal.

Pada umumnya dari ratusan kandidat vaksin, hanya 7% saja yang bisa mencapai uji klinis, dan sekitar 20% diantaranya bisa bertahan hingga penggunaan secara massal di masyarakat. Ada beragam jenis platform, pada kesempatan ini kita hanya membahas 2 platform vaksin, yaitu virus yang dimatikan dan vaksin messenger RNA yang rencananya juga akan didatangkan ke Indonesia.

Sinovac yang telah mulai digunakan sejak 13 Januari 2021, diawali dengan vaksinasi pertama oleh Presiden Joko Widodo, kini telah diberikan kepada ratusan ribu tenaga kesehatan di seluruh pelosok tanah air. Vaksin Sinovac menggunakan platform virus yang di’inaktif’kan atau dimatikan, merupakan metoda pembuatan vaksin tertua di dunia. Penggunaan virus utuh merupakan cara paling mudah untuk memperkenalkanya sebagai antigen kepada sistem kekebalan tubuh.

Vaksin Pfizer dan Moderna, menggunakan platform messenger RNA. Tehnologi rekayasa genetika telah mampu untuk memerintahkan RNA membuat cetak biru untuk menyusun protein khusus yang menyerupai ‘spike protein’ yaitu suatu bagian di permukaan virus korona yang merupakan tempat untuk menempel di reseptor Angiotensin-2 (AT2). Reseptor AT2 adalah pintu masuk virus korona baru ke dalam sel untuk membelah diri/ replikasi.

Vaksin mRNA akan masuk kedalam sel untuk memerintahkan sel memproduksi spike protein, dan akhirnya akan muncul kepermukaan sel sehingga sel akan menyerupai virus korona yang akan dikenali oleh sistem kekebalan tubuh, yaitu limfosit T yang memiliki pasukan disebut CD-4 atau T helper. Jika CD-4 telah berhasil mengenali virus korona dari spike protein yang dibentuk sel, selanjutnya ia akan memerintahkan limfosit B untuk memproduksi antibodi yang kelak diperlukan untuk memerangi virus korona jika masuk ke dalam tubuh.

Vaksin dengan berbagai platform, bertujuan memperkenalkan antigen untuk melatih sistem kekebalan agar mengenali musuh yang melakukan invasi ke dalam tubuh sekaligus melumpuhkanya. Limfosit T, dengan pasukan yang disebut CD-8 Limfosit T juga akan merekam identitas virus korona baru, sehingga diharapkan dapat memiliki kekebalan jangka panjang.

Variasi Efikasi
Uji klinis di Brasil, Turki, dan Indonesia melaporkan efikasi atau kemanjuran Sinovac untuk mencegah terinfeksi COVID-19 berkisar 50,4 % hingga 76% karena perbedaan karakteristik populasi penelitian. Di Turki misalnya, melibatkan populasi risiko tinggi yaitu tenaga kesehatan, di Brazil melibatkan usia lanjut, sedangkan di Indonesia melibatkan masyarakat umum. Pada prinsipnya, di ketiga Negara tersebut, telah memenuhi syarat untuk penggunaan EUA karena telah memenuhi syarat efikasi > 50% yang ditentukan oleh WHO. Uji klinis vaksin Pfizer dan Moderna memperlihatkan tingkat kemanjuran sekitar 95%. Angka angka tersebut masih akan berubah sejalan dengan pembaruan data dari uji klinis yang terus berjalan disertai pemantauan jangka panjang.

Mutasi virus dan masa depan vaksin
Mutasi virus jenis RNA adalah wajar, alamiah, dan umumnya terjadi relatif cepat. Mutasi SARSCOV-2 ditakutkan akan membuat vaksin COVID-19 menjadi tidak efektif, seperti halnya vaksin influenza yang setiap tahun mengalami perubahan komponen antigen dengan menambahkan strain baru. Namun ketakutan tersebut ditampik oleh para ahli, karena seluruh platform vaksin akan tetap memiliki kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali SARSCOV-2 sekalipun telah mengalami mutasi. Mutasi tak akan pernah mengubah virus secara total. Ada bagian virus korona baru yang tak akan pernah berubah sehingga akan tetap bisa dikenali, yaitu spike protein yang memiliki fungsi sebagai anak kunci untuk membuka pintu sel lewat reseptor AT2. Jika bagian ini berubah, maka ibarat melakukan bunuh diri, karena ia tak akan bisa masuk kedalam sel, dan akhirnya mati.

Herd immunity
Sejarah membuktikan, jika lebih 70% populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit, maka akan terjadi kekebalan kelompok atau sering dikenal dengan herd immunity. Pertanyaan yang timbul adalah apakah vaksinasi COVID-19 bisa menimbulkan herd immunity ? Nampaknya tak semudah hitungan matematika, setidaknya karena 3 faktor. Faktor pertama melibatkan sifat intrinsik vaksin dan virus. Sebagai contoh, vaksin Pfizer telah terbukti aman dan efektif dalam mengurangi penyakit di lebih dari 95 persen peserta uji klinis, apakah vaksin itu akan mencegah infeksi dan penularan masih belum diketahui. Kemungkinan besar akan terjadi, tetapi sampai ini terbukti, kita harus terus berhati-hati dalam melindungi diri kita sendiri dan orang lain dari tertular penyakit, bahkan pasca vaksinasi.

Faktor kedua adalah lamanya perlindungan — dengan kata lain, berapa lama perlindungan yang diberikan oleh suatu vaksin akan bertahan. Beberapa penelitian, meskipun tidak semua, menunjukkan bahwa kekebalan alami terhadap virus Covid-19 tidak berlangsung lama dan amat dipengaruhi derajat infeksinya. Makin ringan gejala, makin lemah stimulus terhadap sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi. Kekebalan yang dipicu oleh vaksin mungkin dapat membantu untuk merespons lebih baik, tetapi tidak selalu demikian. Respons kekebalan yang dipicu oleh vaksin influenza, misalnya, berkurang dalam empat hingga enam bulan, sehingga perlu dilakukan vaksinasi ulang dalam kurun waktu tersebut. Hanya waktu yang akan memberi tahu apakah perlindungan kita terhadap Covid-19 juga hanya berumur singkat.

Faktor ketiga, adalah faktor demografis yang membuat sulit untuk melakukan distribusi vaksin ke seluruh pelosok tanah air, sehingga akan memerlukan waktu panjang, dan masih banyak orang yang menolak vaksinasi COVID-19 dengan berbagai alasan yang tak didukung data ilmiah terpercaya. Bagaimana bisa melakukan imunisasi masif, jika seorang anggota dewan saja secara vulgar menyatakan rela dipidana denda daripada menerima vaksinasi.

Sesat pikir
Banyak pihak terlalu besar berharap, vaksin bisa menjadi dewa penolong di tengah kegalauan masyarakat yang belum melihat titik cerah berhentinya pandemi, sehingga muncul berbagai usul yang sangat bombastis. Misal ; menggunakan kartu vaksin untuk kartu perjalanan dan bebas ‘rapid test’. Perlu dipahami, bahwa vaksin COVID-19 tak bisa mencegah tertular virus korona, tugas utamanya adalah mencegah jatuh ke kondisi berat jika terinfeksi. Bahkan ada dugaan kuat orang yang telah mendapatkan vaksinasi berpotensi sebagai penular, karena ia memiliki imunitas bagus sehingga tak jatuh sakit, namun berpotensi menyebarkan virus seperti halnya karier. Jadi membuat program bebas rapid test bagi pemegang kartu vaksinasi COVID-19, jelas sesat pikir.

Utamakan Prokes
COVID-19 masih berusia sekitar setahun, sehingga masih banyak hal tidak diketahui. Ketika masih banyak pertanyaan dibanding jawaban, maka yang terbaik adalah tetap melakukan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah, sebab hal ini telah terbukti efektifitasnya untuk memutus rantai penularan. Vaksin COVID-19 hanyalah upaya tambahan, bukan pengganti protokol kesehatan sampai pandemi dinyatakan usai. Melakukan Prokes jauh lebih penting dibanding harapan berlebihan terhadap vaksin.