Beranda Bulukumba Ajarkan Anak dan Keluarga Memilah Sampah dari Rumah

Ajarkan Anak dan Keluarga Memilah Sampah dari Rumah

•  Penulis : | Senin, 22 Februari 2021, 15:27 WITA

Aksi bersih sungai yang dilakukan peserta camp dan pemuda Desa Bontosunggu yang berlangsung Minggu, 21 Februari 2021. Penyisir bantaran sungai dilakukan sejauh 3 km.

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Persoalan sampah menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Camping Ceria di Kebun Bersama yang digelar pemuda Desa Bontosunggu, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Kegiatan ini berlangsug Sabtu malam dan ditutup dengan aksi bersih sungai bersama warga desa, Minggu pagi, 21 Februari 2021.

Camping Ceria yang dilaksanakan di Kebun Bersama merupakan kegiatan kali kedua di tengah pandemi Covid 19. Diceritakan Muh. Harisah yang akrab disapa Gatot, pendiri Kebun Bersama Bulukumba, awalnya lokasi tersebut hanya kebun terbengkalai yan ditumbuhi semak belukar milik keluarganya.

“Dulu ini lokasi tidak dilirik. Punya keluarga kemudian pandemi dan banyak pemuda yang menganggur. Jadilah tanah yang cukup luas ini kami manfaatkan menjadi Kebun Bersama dan memproduksi media tanam,” ujarnya.

Setelah melakukan banyak penataan dan pembersihan, potensi Kebun Bersama semakin baik dari hari ke hari. Ditambah lagi ada kegiatan-kegiatan outdoor termasuk Fun Camp yang juga menyajikan musik alam.
“Kami mengambil sub tema menjaga lingkungan dimulai dari hal-hal terkecil yang bisa kita lakukan. Ini misalnya pengendalian penggunaan kantong kresek dan juga membawa tumbler atau botol air minum,” jelasnya kepada RADAR SELATAN.

Hadir dalam kesempatan diskusi pada Camping Ceria, Kepala Seksi Pengelolaan Sampah di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Bulukumba, Masykur Amin. Ia banyak berbagi terkait sampah yang harus mulai dikendalikan dari rumah tangga untuk mencegah penumpukan sampah tak terkendali di TPA. “Mulai sekarang, ajarkan anak-anak kita dan keluarga kita memilah sampah dari rumah. Pisahkan sampah plastik, sampah kertas dan sampah organik,” urainya.

Sampah organik sendiri dapat diproses kembali untuk dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya membuat pupuk untuk dipakai sendiri menyuburkan tanaman dan bunga-bunga. Sementara sampah plastik dapat manfaatkan dan didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi.

“Kita memang harus menyikapi ini. Bagaimana agar sampah yang terbuang dapat diminimalisir dan menjadikan sampah menjadi sebuah potensi ekonomi,” katanya.

Keresahan akan sampah, diakui Kepala Desa Bontosunggu, H. Palaloi perlu diselesaikan bersama. Sebagai petani, Palaloi mengaku jika sampah menyita banyak waktunya saat hendak mengalirkan air dari aliran irigasi kecil ke sawahnya.

“Kadang kalau sehari ke sawah itu saya hanya urus sampah. Saya bersihkan sampah bisa seharian. Tidak bisa masuk air ke sawah karena terlalu banyak sampah plastik sama popok bayi,” sesalnya.

Sebagai pucuk pemerintahan di desa, H. Palaloi mengaku ikut risau memikirkan masalah persampahan. “Saya senang ada kegiatan seperti ini. Anak muda di desa ini sangat kreatif,” katanya.***