Beranda Bantaeng Safri Bahtiar, Padukan Fashion dan Budaya

Safri Bahtiar, Padukan Fashion dan Budaya

Senin, 15 Februari 2021, 10:28 WITA

BANTAENG, RADAR SELATAN — Pemuda kelahiran 1990 ini ingin mengenalkan budaya Bantaeng ke mata dunia. Ia menjamin hal itu. Buktinya, desain batik yang dibuatnya dipenuhi arsitektur jonga, salah satu hewan yang menurutnya melambangkan Bantaeng.

Adalah Safri Bahtiar, seorang pemuda yang pernah didaulat menjadi Daeng Bantaeng pada periode 2006-2008. Di pikirannya, Safri ingin mengenalkan Bantaeng lebih dekat ke masyarakat luas. Ia punya potensi, cita yang luhur, serta keteguhan yang kuat.

Kini pemuda yang berprofesi sebagai Master of Ceremony (MC) Protokoler Pemda Bantaeng itu terus mengasah diri. Membuat desain-desain lalu dituangkan ke kain sutera dijadikan batik. Ia ingin memenuhi hasrat para pelancong untuk sekadar memperkenalkan ciri Bantaeng.

Safri bercerita, tentang semua inspirasi dan motivasinya membuat kain batik. Semua itu berawal ketika ia semakin mendalami budaya dan fashion. Tapi bukan di bangku kuliah. Ia belajar otodidak. Safri sendiri adalah lulusan S1 Manajemen Keuangan, sangat jauh dari ilmu fashion. Ia mengawali bakatnya dari berbagai event.

Soal ajang yang pernah diraihnya, selain Daeng Bantaeng, Safri juga dinobatkan sebagai Putra Berbakat Sulsel 2008, Daeng Persahabatan, Duta Pajak, hingga Juara 1 Festival Mode Indonesia 2013.

Bahkan Safri pernah menjadi wakil Indonesia dalam Asian Youth Art Festival di Kagoshima Jepang 2013. Itu sudah cukup untuk menjelaskan Safri punya minat kuat soal karya.

Safri bercerita tentang pengalamannya di Jepang, saat ia mengenalkan lokal Bantaeng. Di sana, ia mempertunjukkan kesenian Pajonga atau Rusa. Sedikit banyaknya, inspirasi desain-desain batiknya yang berawal dari sana.

“Bersama Tim Kesenian Jepang, mengangkat Pajonga pada saat itu, Jonga itu adalah Rusa, hewan khas dari Bantaeng. Kenapa Rusa sangat dielu-elukan oleh masyarakat Bantaeng, sebenarnya ada tiga dari yang diangkat di mana satu sama lain saling terkait. Bermula pada saat Raja Bantaeng ingin memiliki keturunan dan memohon pada sang pencipta agar diberikan keturunan maka munculah Tari Sulo Langit dan Raja pada saat itu akan mempersembahkan Jonga bila nanti anaknya Lahir,” ujar Safri menjelaskan Pajonga.

Safri melanjutkan ceritanya. “Tidak lama berselang Raja pun mencari Sanro atau Dukun atau Tabib yang bisa membantu permaisuri melahirkan keturunannya. Maka ada Tari Sanro Beja. Berselang kemudian Raja memenuhi Hajat untuk mempersembahkan Rusa, sehingga Raja dan Pasukannya berburu Rusa di daerah Tompobulu perkebunan Kopi Bantaeng.

Akhirnya Raja mendapatkan Rusa dan dipersembahkan kepada Sang Pencipta. Pada saat mempersembahkan Rusa tersebut, tiba-tiba Rusa menjelma menjadi seorang Putri Cantik. Dengan alasan ini Jonga sangat dielu-elukan dan menjadi hewan buruan dan Piaraan Para Raja. “Sehingga dulu kita masih bisa menyaksikan Jonga berada dalam Area Balla Lompoa,” tambahnya.

Ketertarikannya dengan budaya, batik dan Jonga pun kian menguat. Pada satu kesempatan di 2018, Safri mengikuti Batik Karnaval di TMII Jakarta. Sungguh memuaskan, ia masuk dalam kategori Juara Best kala itu. Bahkan event F8 di Makassar, Safri pun tak ketinggalan menjadi finalis fashion designer.

Wakil Sekretaris Dekranasda Bantaeng ini berujar, fashion dan budaya harus disandingkan. Bukan apa-apa, semua itu semata-mata untuk memperkenalkan ciri dari suatu daerah.

“Kita para pengrajin harus menggabungkan antara fashion dan budaya. Tantangannya adalah bagaimana supaya bisa membuat daya saing tersendiri. Ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki kain-kain yang ada di Indonesia. Kita di Sulsel hanya ada sutera, tetapi ini tantangan tersendiri bagaimana punya batik sendiri di Bantaeng. Lebih ke inovasi dan ciri khas yang beda sih,” katanya kepada Radar Selatan, Minggu, 14 Februari 2021.

Dia menyebut ada daya tarik tersendirj dari batik desainnya itu. Biasanya, motif tumbuhan dan kayu mendominasi batik. Tapi ini berbeda. Penggabungan yang apik karena ada unsur sejarah di dalamnya, yakni Pajonga menjadi ciri khas tersendiri yang digemari mereka yang berkunjung ke Bantaeng.

“Untuk daya tarik sendiri bagi pelancong, alhamdulillah saat launching terjual 50 pieces batik desain pertama yakni perpaduan warna kuning dan hijau. Di tahun 2018 kembali launching warna hitam. Dan 2020 kemarin launching lagi Batik Pajonga warna merah dan navy namanya Pajongaya Bantaeng. Yang ini banyak terjual kurang lebih 60 lembar. Untuk harganya sih dibanderol sampai 350 ribu per lembarnya. Ikut pameran kartini ekspo di Jakarta alhamdulillah batik pajonga juga laku,” katanya.

Ketua Ikaraeng DPC Bantaeng itu tak pernah surut meski saat ini pandemi melanda. Memang, katanya, pandemi ini kurang pameran sehingga berimbas pada melambatnya proses produksi. Menurutnya sejak April hingga Oktober produksi Batik Pajonga terpaksa ditekan. Proses produksi baru ia mulai pada November. Ia sangat bersyukur belakangan ini pemesan batiknya mulai lancar.

Tapi soal pandemi korona, kata dia bukanlah sebuah hambatan. Justru hal itu harus dipecahkan. Ia hanya ingin muda-mudi terus berkarya.

“Pandemi ini dijadikan tantangan untuk berkarya lagi,” katanya.

“Walau kurang event, tapi tidak menghalangi untuk membuat desain terbaru batik Pajonga ini. Mungkin contoh November lalu itu saya upload desain di sosmed, alhamdulillah penjualan online cukup banyak peminat,” sambungnya.

Sayangnya Safri belum bisa memproduksi sendiri di Bantaeng, banyak kendala yang ia dapati. Tetapi anggota KNPI Bantaeng ini, bercita-cita punya rumah produksi sendiri.

“Untuk proses produksi belum di Bantaeng. Saya hanya proses desain aja dan pemilihan bahan dasar kain. Kita masih keterbatasan di Bantaeng, jadi ada tim, teman-teman dari Jember. saya biasanya buat sketsa di dasar kain putih nanti mereka yang proses pewarnaan. Keterbatasan prasarana sehingga untuk saat ini saya belum bisa produksi sendiri,” jelas dia.

Ia berharap ke depan ada stakeholder yang dapat membantu untuk mewujudkan cita-cita para pengrajin di Bantaeng. ***