Beranda Hot News KPK dan OTT yang Tak Melulu Tangkap Orang Sedang Terima Suap

KPK dan OTT yang Tak Melulu Tangkap Orang Sedang Terima Suap

Senin, 1 Maret 2021, 13:21 WITA

JAKARTA, RADAR SELATAN — KPK sudah menyatakan secara resmi bahwa penangkapan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah cs bagian dari Operasi Tangkap Tangan (OTT). Di masyarakat masih ada yang berdebat soal OTT ini. Jauh sebelumnya pada tahun 2013 KPK juga melakukan OTT pada Ahmad Fathanah. Kala itu Ahmad Fathanah diduga menjadi kurir suap untuk Luthfi Hasan Ishaaq.
Dari catatan yang ada, saat itu Luthfi dan Fathanah bertemu sebelum uang dari PT Indoguna Utama sebesar Rp 1 miliar diserahkan ke Fathanah. Usai penyerahan uang, Fathanah juga terpantau KPK melapor ke Luthfi.
Berikut kronologinya:

Selasa (29/1/2013)
Pukul 12.30 WIB
Fathanah menemui Luthfi di Gedung Nusantara 3, Komplek gedung DPR. Diduga pertemuan itu untuk membahas uang yang disediakan PT Indoguna, perusahaan importir daging yang sudah beberapa kali menjadi rekanan Kementerian Pertanian (Kementan).
Belum jelas di ruangan mana mereka bertemu. Namun KPK memiliki bukti cukup kuat soal adanya pertemuan ini.
Pukul 15.00 WIB
Fathanah berpamitan dan meninggalkan komplek gedung DPR. Bersama sopirnya, dia menuju Jl Taruna 8, Pondok Bambu Jaktim, tempat PT Indoguna berada. Di situlah proses serah terima uang dilakukan.
Dua direktur PT Indoguna Utama yang sudah menjadi tersangka Arya Abdi Effendi, Juard Effendi, diduga bertemu dengan Fathanah dan menyerahkan uang Rp 1 miliar. Jumlah itu dikabarkan baru sekadar uang muka dari Rp 40 miliar yang dijanjikan.
Pukul 18.00 WIB
Usai menerima uang, Fathanah melapor ke Luthfi. KPK memegang bukti kuat adanya pelaporan ini.
Pelaporan itulah yang dijadikan salah satu dasar bagi KPK untuk menjerat Luthfi. Dalam pembicaraan disebutkan, Luthfi mengiyakan laporan dari Fathanah.
Pukul 20.00 WIB
Di luar dugaan, Fathanah rupanya tak langsung menyerahkan uang itu ke siapa pun. Dia membawa duit pecahan Rp 100 ribu itu ke hotel Le Meridian. Di sana, ada seorang wanita yang sedang menunggunya.

Akhirnya, di hotel mewah itulah, Fathanah dan mahasiswi itu akhirnya ditangkap dan uang Rp 1 miliar yang berada di jok mobil disita.
Dalam perkara ini pada akhirnya Fathanah dan Luthfi dinyatakan bersalah. Fathanah divonis 16 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, sedangkan vonis Luthfi di tingkat kasasi yaitu 18 tahun penjara.
Bahkan dalam rangkaian OTT KPK lainnya ada pula penyelenggara negara yang saat kejadian tidak ditangkap langsung karena alasan kemanusiaan tetapi malah menggelar jumpa pers dengan klaim tidak kena OTT. Siapa dia?
• Kala itu April 2018 tim KPK bergerak ke Kabupaten Bandung Barat. Tim KPK melaksanakan OTT di wilayah itu.
Dalam rangkaian OTT itu sejatinya KPK sudah menemukan targetnya yaitu Abubakar selaku Bupati Bandung Barat. Namun Abubakar tidak ikut dibawa ke KPK dengan pertimbangan kemanusiaan.
Kabiro Humas KPK saat itu Febri Diansyah mengatakan tim KPK sengaja tidak membawa serta Bupati Bandung Barat Abubakar ke Jakarta dalam OTT. Namun, tim KPK disebut Febri sempat melakukan pemeriksaan awal pada Abubakar.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 10 April 2018. Namun Abubakar malah menggelar konferensi pers dengan mengaku tidak ditangkap KPK.
“Tadi laporan dari ajudan, ada tamu. Saya terima, mereka memperkenalkan dari KPK. Intinya, minta keterangan bahwa banyak isu masuk KPK. Melakukan penggalangan dana untuk keperluan saya berobat dan konteks Ibu sedang pencalonan,” kata Abubakar saat memberi keterangan pers di kediamannya, Jalan Mutiara I, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (10/4/2018) malam.
Dia kemudian menjelaskan terkait isu tersebut kepada petugas KPK tersebut. Intinya, dia membantah perihal isu tersebut. Selama ini, menurutnya, biaya pengobatan dan uang politik istrinya murni dari kocek pribadi.
“Saya sudah cukup bekal untuk berobat saya dan untuk pencalonan Ibu,” ucapnya.
Dia juga tidak mempermasalahkan saat petugas KPK meminta keterangannya itu dituangkan dalam BAP. “(Mereka) kemudian (minta) apakah boleh keterangan ini dituangkan dalam BAP, saya baca sesuai (dengan keterangan saya), tidak jadi masalah,” ujarnya.
Abubakar menambahkan, Rabu (11/4/2018) besok dia akan menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Borromeus. Hal itu mempertegas dirinya tidak ditangkap KPK.
“Besok kebetulan saya lakukan pemeriksaan kesehatan melakukan kemoterapi,” kata Abubakar.
Wakil Ketua KPK saat itu Saut Situmorang pun memberikan penjelasan. Saut menyinggung pula perihal konferensi pers yang digelar Abubakar.
“Yang bersangkutan memohon untuk tidak diamankan karena harus melakukan kemoterapi dan dalam kondisi tidak fit,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).
“Namun yang bersangkutan malah membuat konferensi pers dan menyebut KPK hanya mengklarifikasi isu tertentu,” imbuh Saut.
Pada akhirnya Abubakar dijemput KPK selesai menjalani kemoterapi. Proses hukumnya berlangsung hingga vonis 5,5 tahun penjara untuknya.
Selain itu ada pula cerita OTT ketika penyelenggara negara tidak terjaring langsung tetapi ditetapkan sebagai tersangka. Seperti apa ceritanya?
Peristiwa OTT di Kementerian Sosial (Kemensos) beberapa waktu lalu bisa menjadi contoh. OTT yang terjadi pada Desember 2020 itu bahkan tidak langsung menjerat Juliari Batubara sebagai Menteri Sosial (Mensos) kala itu.
Bahkan saat proses OTT berlangsung dan KPK belum mengumumkan siapa saja yang menjadi tersangka, Juliari sempat memberikan komentarnya. Kala itu Juliari berbicara demikian.
“Kita masih memonitor perkembangannya,” kata Juliari Sabtu (5/12/2020).
Namun pada akhirnya KPK menetapkan total 5 tersangka dalam perkara suap terkait bantuan sosial (bansos) penanganan COVID-19 itu, yaitu antara lain:
Diduga sebagai penerima:
1. Juliari Batubara (JPB) selaku Mensos
2. Matheus Joko Santoso (MJS) selaku pejabat pembuat komitmen di Kemensos
3. Adi Wahyono (AW)
Diduga sebagai pemberi:
1. Ardian IM (AIM) selaku swasta
2. Harry Sidabuke (HS) selaku swasta
Begini kronologinya seperti disampaikan Firli Bahuri selaku Ketua KPK dalam konferensi pers pada Minggu, 6 Desember 2020:
Jumat (4/12/2020)
Firli menjelaskan pada Jumat (4/12) tim KPK menerima informasi dari masyarakat adanya dugaan terjadinya penerimaan sejumlah uang oleh penyelenggara negara yang diberikan oleh AIM dan HS kepada MJS, AW, dan JPB. Sedangkan khusus untuk JPB, pemberian uangnya melalui MJS dan SN (orang kepercayaan JPB).
Sabtu (5/12) pukul 02.00 WIB
Firli menyebut penyerahan uang dilakukan pada Sabtu (5/12) dini hari di salah satu tempat di Jakarta. Uang sebelumnya telah disiapkan AIM dan HS di salah satu apartemen di Jakarta dan Bandung.
Uang tersebut disimpan di dalam 7 koper, 3 tas ransel, dan amplop kecil yang jumlahnya sekitar Rp 14,5 miliar. Tim KPK kemudian langsung mengamankan MJS, SN, dan pihak-pihak lain di beberapa tempat di Jakarta untuk selanjutnya pihak-pihak yang diamankan beserta uang dengan jumlah sekitar Rp 14,5 miliar dibawa ke KPK untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Firli mengatakan, dari hasil tangkap tangan ini, ditemukan uang dengan pecahan mata uang rupiah dan mata uang asing, masing-masing sejumlah sekitar Rp 11,9 miliar, USD 171,085 (setara Rp 2,420 M), dan SGD 23.000 (setara Rp 243 juta).
Minggu (6/12/2020) pukul 01.03 WIB
Sekitar pukul 01.03 WIB, Minggu dini hari tadi, Firli mengumumkan tersangka kasus suap ini dan hanya 3 orang yang dihadirkan. Dua tersangka lainnya masih diburu. Mereka adalah Juliari Batubara dan AW.
“KPK terus berusaha sampai detik-detik ini melakukan pencarian kepada para tersangka yang belum berada di KPK. Karenanya, KPK memerintahkan kepada kita semua untuk segera untuk kita lakukan pencarian terhadap para tersangka, dan kami imbau, kami minta kepada para tersangka saudara JPB dan AW untuk kooperatif dan segera mungkin menyerahkan diri ke KPK,” kata Firli di Gedung Merah Putih KPK.
Minggu (6/12) pukul 02.50 WIB
Kurang dari dua jam ditetapkan sebagai tersangka, Mensos Juliari Batubara menyerahkan diri ke KPK. Juliari tiba di KPK.
“Tersangka JBP menyerahkan diri ke KPK hari Minggu tanggal 6 Desember 2020 sekitar jam 02.50 WIB dini hari,” kata juru bicara KPK, Ali Fikri, saat dihubungi pada Minggu /12) pagi.
Tangan Juliari juga tidak diborgol. Juliari kemudian menaiki tangga gedung KPK. Di tangga dia sempat melambaikan tangan kepada awak media. Namun tak ada kata yang diucapkan.
Kini Juliari dan tersangka lainnya masih menjalani proses penyidikan di KPK. Namun ada sejumlah tersangka lain yang sudah menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. (bs)