Beranda Bantaeng Menaker beri PR ke Pemkab Bantaeng

Menaker beri PR ke Pemkab Bantaeng

•  Penulis : | Sabtu, 20 Maret 2021, 20:34 WITA
Menteri Ketenagakerjaan mengunjungi BLK Bantaeng pada Sabtu, 20 Maret 2021.

BANTAENG, RADAR SELATAN — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah memberi pekerjaan rumah atau PR ke Bupati Bantaeng Ilham Azikin dan seluruh jajarannya, yakni mengentaskan angka pengangguran.

Ida Fauziyah menyebut, banyak karyawan di Indonesia yang terpaksa dikurangi gajinya atau bahkan dilakukan PHK oleh pihak perusahaan.

Hal itu terjadi lantaran perusahaan mengalami resesi akibat pandemi covid-19. Pemerintah pun tak boleh tinggal diam dengan kondisi itu. Pemulihan ekonomi terus digalakkan.

“Pada sektor ketenagakerjaan yang paling terasa dampaknya (pandemi covid-19),” kata Menaker Ida.

Lewat Balai Latihan Kerja atau BLK, maka angkatan kerja, khususnya di Kabupaten Bantaeng, bisa semakin ditingkatkan.

Sebab, berdasarkan data yang ada, angka pengangguran di Bantaeng berkisar 4000-an orang. Sementara pelatihan di BLK tiap tahun bisa menyelenggarakan sekotar 7000 pelatihan berbasis kompetensi.

“Ini angkanya masih harus menjadi PR pak Bupati dan seluruh aparat. Harapannya BLK ini menjadi solusi bagi persoalan ketenagakerjaan. Satu tahun BLK banteng itu bisa menyelenggarakan pelatihan kompetensi sebanyak 7000 peserta pelatihan berbasis kompetensi. Nah artinya kalau misalnya ada upaya untuk memberikan instruksi kepada masyarakat Bantaeng (mengikuti pelatihan BLK) sudah selesai itu urusan (pemgangguran) pak,” jelasnya.

Secara nasional, Menurut Menteri Ida, selama pandemi covid-19 melanda, angka pengangguran kembali meningkat. Padahal sejak lima tahun ke belekang, angka pengangguran telah ditekan.

“Sebelum pandemi pengangguran sudah kita turunkan dan lima tahun kebelakang turun tapi begitu ada pandemi ini seperti kita mulai dari nol lagi,” kata dia.

Ia pun mewanti-wanti seluruh kepala daerah, termasuk Ilham Azikin untuk mendorong masyarakat bisa bersaing di tengah perkembangan industri 4.0 saat ini.

“Pengangguran harus kita selesaikan, kemudian peningkatan kompetensi harus kita bangun dan kemudian baru bisa masuk (bersaing) pada industri 4.0,” katanya.

Apalagi rata-rata angkatan kerja Indonesia didominasi oleh pekerja yang pendidikan hanya sampai SMP berkisar 57 persen. Tentunya, kata dia, kompetensi pun belum bisa bersaing secara global.

“Ini pekerjaan yang tidak ringan, kita berharap BLK menjadi solusi bagi kesiapan (tenaga kerja) kita memasuki 4.0, BLK jadi solusi bagi tingginya angka pengangguran,” jelasnya. (*)