Beranda Bulukumba Wabup Soroti Mahalnya Sewa Hotel di Bira

Wabup Soroti Mahalnya Sewa Hotel di Bira

•  Penulis : | Sabtu, 20 Maret 2021, 15:19 WITA

Same Resort, salah satu hotel di Bira dengan fasilitas yang lengkap, termasuk kolam renang.

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf menyoroti tarif sewa hotel yang berada di Kawasan Pantai Bira. Hal itu di sampaikan Edy Manaf saat mendengarkan ekspose prorgam kerja Dinas Pariwisata, belum lama ini.
Ekspose Program Kerja dilakukan setelah Kemenparekraf kembali akan melakukan supervisi kepada kabupaten kota yang memiliki event wisata untuk dimasukkan di 100 wonderful event Indonesia. Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf berharap agar ada standar tarif yang diberlakukan di kawasan Bira. Pasalnya selama ini, dari laporan yang diterima, sewa hotel masih sangat mahal dan harganya bisa berubah setiap waktu.
Rate hotel di Kawasan Wisata Tanjung Bira memang bervariasi. Di Same Resort misalnya, saat weekend tarif kamar per malam di atas Rp 1 juta. Untuk Premier King Bed (sea view) bahkan dipatok Rp 1,8 juta per malam. Begitu juga di Balatoa Bungalow yang mematok harga kamar di atas Rp 1 juta saat weekend. Sementara di Hakuna Matata, The Upperspace Akasha dan Paduppa Resort ada kamar Family Room yang harganya sampai Rp 5 juta dan Rp 7 juta per malam.
“Ini bisa menjadi faktor warga di luar Bulukumba tidak mau berkunjung dan menginap karena tarif yang mahal,” katanya.
Menurutnya perlu ada standar harga yang ditetapkan sehingga pihak hotel tidak seenaknya menaikkan tarif. “Kan ini fluktuatif yah sebaiknya ada standarnya. Ini perlu di atur,” katanya.
Sementara itu, Bupati Bulukumba, Muchtar Ali Yusuf memberikan arahan agar dalam pengembangan wisata ke depannya. perencanaannya harus berjangka panjang. Konstruksi yang dibangun harus bertahan sampai 25 sampai 50 tahun ke depan. Jangan sampai hanya 2-5 tahun fasilitas wisata yang dibangun tersebut sudah rusak.

Dikatakann, pariwisata itu harus berdampak ekonomi bagi masyarakat. Rencana bupati ke depannya akan membangun fasilitas secara terpadu. Misalnya tempat kuliner atau food court, serta pusat oleh-oleh.

“Bagaimana kita bisa membuat event berskala nasional atau internasional jika kita tidak memiliki fasilitas hotel dan kuliner yang memadai. Bikin event yang besar itu gampang, tapi mereka nginap dan makan di mana. Semua itu harus kita siapkan,” ujarnya. ***