Beranda Bulukumba Tiga Zona Pengendalian Banjir di Bulukumba, Zulkifli: Ke Depan Kita Harus...

Tiga Zona Pengendalian Banjir di Bulukumba, Zulkifli: Ke Depan Kita Harus Punya Waduk

•  Penulis : | Jumat, 2 April 2021, 10:12 WITA

Andi Zulkifli Indrajaya, Kadis PSDA Kabupaten Bulukumba saat hadir sebagai narasumber di Diskusi Redaksi Radar Selatan, Rabu 31 Maret 2021.

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Redaksi RADAR SELATAN kembali menggelar diskusi rutin di Kantor RADAR SELATAN, Jalan Ahmad Yani, Ujungbulu Kabupaten Bulukumba, Rabu, 31 Maret 2021. Hadir dalam Diskusi Redakdi RADAR SELATAN, Kadis Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Bulukumba, Andi Zulkifli Indrajaya, bersama Kepala Seksi Operasi Jaringan Pemanfaatan Air, Ansar, yang membeberkan bagaimana gebrakan yang sudah dilakukan Pemkab Bulukumba dalam melakukan pencegahan dan pengendalian banjir.

Andi Zulkifli Indrajaya ditunjuk oleh Bupati Bulukumba memimpin Satgas Pencegahan Banjir Kabupaten Bulukumba, dan mulai bekerja sejak Bupati dan Wabup dilantik beberapa waktu lalu. Menurut Andi Zulkifli, sejak awal pihaknya sudah melakukan deteksi titik rawan banjir khususnya di wilayah sekitar Kota Kabupaten Bulukumba. “Kami membaginya dalam tiga zona, ini yang diselesaikan persoalannya satu per satu,” ujarnya.

Zona 1, di bagian utara kota di antaranya Desa Bialo dan Desa Paenre Lompoe, Kecamatan Gantarang. “Saluran pembuangan yang langsung ke sungai Bialo ataupun sungai Lajae selalu tersumbat. Karena salurannya menyempit hanya 1 sampai 1,5 Meter,” ungkapnya.

Setelah dikerjakan oleh tim Satgas Pencegahan Banjir, lanjut Andi Zulkifli, di mana saluran irigasi dikeruk menggunakan alat berat bantuan Bupati, sekarang saluran menuju sungai Bialo kini lebarnya sudah menjadi 4-5 meter dengan panjang 1.800 Meter. Untuk di Zona I dari 10 titik, 7 titik diantaranya sudah rampung dikerjakan.

Selanjutnya Zona II, yaitu wilayah dalam kota. Terdapat 18 titik yang dideteksi rawan banjir. Karena ditemukan sedimentasi atau pendangkalandi di saluran air pada titik-titik tersebut. “Dari 18 titik, sudah 10 yang telah diselesaikan ditambah dua titik sementara dikerjakan,” urainya.

18 titik rawan banjir antara lain Jalan Kartini, Jalan Imam Bonjol, Jalan Yos Sudarso, Jalan Gajah Mada, Jalan Kenari, Jalan Nenas, Jalan Durian, Jalan Kedondong, Jalan Lanto Daeng Pasewang, Jalan AP Pettarani, Jalan S Majidi, Jalan Panjaitan, Jalan Muhammad Hatta, Jalan Jambu, Jalan Siswo Mihardjo, Jalan Suprapto, Jalan Abdul Karim.

Sedangkan Zona III, yaitu daerah pesisir pantai yang rawan terjadi pasang. Menurutnya, dari 10 muara yang hendak dikerjakan sisa tiga yang belum dituntaskan.

“Ini tiga yang belum tuntas di sekitar Caile, karena terkendala oleh lahan pertanian petani, akses ke lokasi sulit karena terhalang padi. Setelah panen baru kita kerjakan,” tambah Zulkifli. Program pencegahan banjir ini ditargetkan rampung sebelum memasuki bulan puasa. “Kalau puasa, terus dengan melakukan pekerjaan seberat ini kayaknya agak sulit. Maka kita menargetkan rampung sebelum memasuki bulan ramadan,” katanya.

Bulukumba Butuh Waduk

Selain karena terjadi penyumbatan dan pendangkalan saluran air, salah satu faktor yang dapat menyebabkan banjir di Kabupaten Bulukumba menurut Zulkifli karena tidak adanya waduk atau paling tidak kolam retensi.

“Paling parah kalau hujan di hulu, hujan di kota, dan pasang di pesisir. Kita tinggal berdoa saja, karena kita tidak punya waduk dan tidak bisa menahan air dari daerah atas,” cetusnya.

Zulkifli menjelaskan pembersihan atau pengerukan saluran air merupakan proyek jangka pendek dalam penanganan banjir. Untuk target jangka menengahnya, pihaknya akan melakukan pembetonan pinggiran jalur air yang sebelumnya telah dikeruk.

Sedangkan untuk jangka panjang, akan diupayakan pembangunan waduk atau minimal kolam retensi. Menurutnya lokasi yang telah dipantau untuk dijadikan waduk atau kolam kontrol terletak di sekitar BTN Somba.


Partisipasi Masyarakat

Terlepas dari apa yang telah dikerjakan oleh Tim Satgas Pencegahan Banjir, menurut Zulkifli, masyarakat juga harus berperan aktif dalam pencegahan banjir.

Penyumbatan yang terjadi di saluran air rata-rata disebabkan oleh tumpukan sampah. Hal tersebut terjadi tidak terlepas dari perilaku masyarakat yang masih sering membuang sampahnya di selokan bahkan sungai.

Anggapan bahwa pemerintah daerah yang memiliki tanggungjawab penuh terhadap kebersihan lingkungan atau pencegahan banjir harus diubah. Menurut Zulkifli pencegahan banjir dan kebersihan lingkungan adalah tanggungjawab bersama, semua pihak mesti terlibat termasuk masyarakat itu sendiri.

“Minimal masyarakat sadar untuk tidak membuang sampahnya di sembarang tempat,” harapnya, yang disampaikan di penghujung diskusi. Diskusi rutin RADAR SELATAN ini turut dihadiri oleh Direktur RADAR SELATAN, Bachtiar Sairing dan dipandu oleh Pimpinan Redaksi (Pimred) RADAR SELATAN, Sunarti Sain.***