Beranda Adaptasi Baru Bisnis Kopi Gerobak, Strategi Jitu Raih Keuntungan dengan Modal Pas-pasan

Bisnis Kopi Gerobak, Strategi Jitu Raih Keuntungan dengan Modal Pas-pasan

Selasa, 22 Juni 2021, 15:04 WITA
Kopi Gerobak

RADARSELATAN.CO.ID, MAKASSAR — Di tengah krisis ekonomi imbas pandemi Covid-19, banyak bisnis cafe atau warung kopi berbasis UMKM yang mengalami penurunan omzet lantaran pembatasan sosial kian ketat diterapkan pemerintah.

Agar tidak defisit, sebenarnya banyak pilihan yang bisa diambil agar bisnis kopi yang sangat menjanjikan ini bisa tetap mendatangkan keuntungan besar bagi para pelaku UMKM.

Seperti yang dilakukan Andi Agung Setiawan. Pemuda asal Kabupaten Bulukumba ini berjualan kopi dengan menggunakan gerobak. Modalnya sedikit dan bisa mendatangkan keuntungan yang di atas rata-rata.

Agung mengungkapkan, dalam memulai bisnisnya ini, ia hanya perlu menyiapkan modal Rp 10 juta. Modal tersebut digunakan untuk menyiapkan gerobak, peralatan pembuat kopi dan bahan.

“Agar bisnis ini bisa running dengan baik, pilihan lokasi berjualan adalah hal yang paling penting,” tutur Agung kepada fajar.co.id di Makassar, Selasa (22/6/2021).

Karena itu, pemilik gerobak kopi “Teman Jalan” ini kemudian menempatkan gerobak kopinya tepat di depan Lapangan Pemuda, Jalan Jend. Sudirman, Kabupaten Bulukumba.

“Di sana sangat ramai orang yang lewat-lewat. Kita manfaatkan itu untuk capai penjualan yang besar,” akunya.

Menurut Agung, pilihannya membuka usaha dengan konsep gerobak kopi tidak terlepas dari situasi pandemi yang berdampak pada aktivitas dimana orang-orang cenderung menghindari kerumunan di tempat-tempat indoor seperti cafe dan warung kopi. Terlebih ada aturan pemerintah memberlakukan pembatasan sosial.

Gerobak kopi hadir untuk menjawab kecenderungan tersebut. Orang-orang tinggal datang memesan lalu membawa pesanannya pulang.

“Karena konsepnya gerobak kopi, metode yang kita terapkan adalah take away atau bawa pulang. Bisa juga order di rumah lalu kita antarkan,” kata Agung.

Terkait dengan keuntungan yang didapatkan, diakuinya, dalam sehari ia bisa menjual 30-40 cup (gelas kemasan) kopi. Jika ditotal, dalam sebulan bisa mencapai 1.000 cup lebih.

Omzet yang diperolehnya pun setiap bulannya maksimal bisa mencapai belasan juta rupiah. Angka yang terbilang cukup besar untuk ukuran usaha gerobak kopi.

Hasil penjualan yang dicapainya tidak terlepas dari strategi penerapan harga yang cukup terjangkau dengan didukung kualitas kopi dari perkebunan di Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.

“Harga terjangkau dan kualitas kopi lokal terbaik jadi daya tarik tersendiri buat pelanggan kami,” tandasnya.

Agung sendiri baru memulai bisnis gerobak kopi di tahun ini. Dalam waktu dekat ia telah merencanakan untuk memperlebar usahanya itu ke sejumlah titik strategis di Kabupaten Bulukumba.

“Kita fokus dulu untuk perbanyak gerobak kita ini di Bulukumba. Karena masih ada banyak titik strategis. Selanjutnya baru ke luar (kabupaten lain),” tutupnya. (fjr)