Beranda Bulukumba Bangunan Liar Bertambah, Pantai Bara Makin Kumuh

Bangunan Liar Bertambah, Pantai Bara Makin Kumuh

•  Penulis : | Selasa, 8 Juni 2021, 6:08 WITA

KUMUH. Bangunan liar yang terbangun di pasir putih Pantai Bara yang dianggap mengganggu estetika pantai dan membuat kumuh.

BULUKUMBA, RADAR SELATAN – Pasir putih dan hamparan pohon kelapa di sepanjang Pantai Bara, Bulukumba bakal tinggal cerita saja. Eksotisme Pantai Bara yang dipuja wisatawan mancanegara kini nyaris tak terdengar. Pantai Bara yang menawan, rusak akibat keserakahan oknum-oknum tak bertanggungjawab.

Pantai Bara yang masih berada dalam kawasan wisata Pantai Bira, dulu menjadi tempat paling tenang dan nyaman. Pantai yang indah dengan jejeran nyiur melambai seolah menyapa setiap pengunjung yang datang. Tidak ada bangunan sama sekali di hamparan pasir putihnya yang lembut. Hanya pohon kelapa dan desir angin yang menemani setiap kali kita datang di pantai ini. Tapi itu dulu. Wajah Pantai Bara kini berubah total.

Seiring waktu, Pantai Bara makin kesohor. Makin banyak wisatawan yang datang. Wisatawan manca negara yang biasanya tampak berjemur di Pantai Bara, kini berganti wisatawan domestik. Kios-kios yang dibangun warga juga mulai muncul satu-satu. Awalnya hanya tempat berjualan makanan dan minuman. Sekarang satu per satu bangunan semi permanen muncul. Bahkan limbah dari toilet yang dibangun warga mengganggu tetamu yang menginap di resort yang ada di kawasan Bara.

“Saya terakhir ke bara tahun 2013, Dan saat itu pantai ini benar-benar surga. Tenang dan damai. Sekarang, ya ampun saya sendiri shock lihat bangunan liar yang merusak keindahan pantainya,” ujar Paul, traveler dan juga jurnalis dari Jakarta,

Keasrian dan ketenangan Pantai Bara memang hanyalah nostalgia bagi yang pernah berkunjung ke Pantai Bara di tahun-tahun 2015-an ke belakang.

RADAR SELATAN melakukan penelusuran dan berbicara dengan wisatawan juga warga di pesisir Pantai Bara. Selain mengganggu estetika, sejumlah bangunan berdinding kayu dan belantai beton tersebut ternyata bangunan yang dibangun tanpa dilengkapi dokumen perizinan yang resmi.

Beberapa toilet juga dibangun secara permanen. Ini semakin menambah semrawutnya suasana di Pantai Bara.

Salah satu pemilik bangunan liar yang ditemui RADAR SELATAN mengaku mulai membangun di Pesisir Pantai sejak 2018. Tidak sekedar membangun, tetapi bangunan berupa bungalow itu ia sewakan kepada pengunjung pantai yang ingin menginap.

“Harganya tergantung hari. Kalau hari-hari libur (weekend), harganya juga naik. Kalau hari biasa kita pasang harga Rp 350 ribu per kamar (tiap bangunan memiliki dua kamar). Kalau hari libur 500 ribuan, itu untuk satu malam saja,” ungkap salah seorang pemilik bangunan liar saat ditemui di Pantai Bara, Sabtu malam, 5 Juni 2021.

Saat melakukan penelusuran, penulis mendapati semua kamar bungalow miliknya telah penuh. Bersama anak-anak dan mantunya pria tersebut mengaku mengelola 3 bangunan bungalow ditambah lagi 1 bangunan untuk warung.

Selain menyewakan bungalow, mereka juga bahkan telah memasang kapling camp area dan mengenakan tarif bagi pengunjung yang ingin memasang tenda camping di pesisir Pantai Bara di sekitar bungalownya.
Bagi pengunjung yang memakai tenda sendiri dikenakan tarif 25 ribu sampai 35 ribu per tenda, dan 50 ribu hingga 75 ribu bagi yang ingin menyewa tenda. Sedangkan untuk memakai toilet juga dikenakan tariff yang tak kalah fantastis; Buang air dan BAB 10 ribu, mandi 15 ribu.

Mirisnya lagi, para pembangun penginapan liar di Pantai Bara tersebut juga membabat sejumlah pohon kelapa yang ada di sana.

Kondisi di Pantai Bara sekarang ini semakin mengkhawatirkan. Salah satu wisatawan dari Kabupaten Wajo, bernama Asis mengaku tidak pernah menyangka Pantai Bara tak diurus dengan baik padahal namanya begitu harum di luar. Ia mengatakan, suasana di Pantai Bara tidak sesuai dengan ekspektasinya.

“Kalau laut dan pasir putihnya memang indah, awalnya saya kira di sini masih sepi dan bebas pasang tenda. Ternyata sudah banyak bangunan di pinggir pantai dan membayar kalau pasang tenda,” keluh Asis.***

Investor Minta Bupati Turun Tangan

SEMRAWUTNYA Pantai Bara tidak hanya dikeluhkan oleh wisatawan, tetapi juga sejumlah pengusaha penginapan resmi di sana. Mereka mengeluhkan banyaknya bangunan liar yang dianggap mengganggu usahanya.

Dengan bangunan liar yang mulai menjamur tersebut dianggap merusak keasrian Pantai Bara, sehingga mengurangi minat wisatawan khususnya wisatawan manca negara untuk berkunjung.

Salah seorang pengusaha penginapan resmi di Pantai Bara mengaku telah mengadukan masalah semrawutnya pesisir pantai bara ke Dinas Pariwisata Kabupaten Bulukumba, namun sampai saat ini tidak ada tindakan tegas dari Dispar. Bahkan ada kesan ‘perlawanan’ dari pemilik bangunan liar yang terus menambah unit bungalownya di area pasir putih.

“Pengaduan saya sudah masuk, bahkan Dinas Pariwisata Bulukumba juga mengakui bahwa mereka (bangunan di pesisir Pantai Bara, red) itu illegal. Sudah ada surat peringatan kedua dikeluarkan, tapi sampai sekarang tidak ada tindakan. Makanya bangunan liar terus bertambah. Kami mohon Pak Bupati untuk lihat kondisi Bara dan dengarkan suara kami,” kata salah seorang pengusaha penginapan di Pantai Bara yang ditemui RADAR SELATAN.

Bahkan beredar rumor di kalangan pemilik usaha di sana bahwa ada pejabat yang menjadi ‘dekkeng’ para pemilik bungalow liar tersebut.

Ketidakpastian sikap pemerintah membuat pelaku usaha resmi di Bara putus asa. Jika tidak segera teratasi, mereka berencana menutup usahanya. “Makin lama makin tidak ada wisatawan mancanegara yang mau ke Bara dengan lingkungan seperti sekarang ini,” katanya.

Pengusaha penginapan resmi yang sudah memulai usahanya di Bara sejak 2012 bahkan ada yang sejak tahun 90-an merasa tidak diperlakukan secara adil oleh pemerintah. Bungalow-bungalow yang terbangun liar menyewakan bungalow, memasang tarif untuk toilet, mengapling camp area, menyewakan tenda, tanpa sedikitpun menyumbang pajak kepada daerah. Sementara pelaku usaha resmi memiliki semua dokumen dan menjadi wajib pajak yang patuh.

Salah satu pengusaha penginapan lainnya juga sependapat dengan itu. Menurutnya, Pantai Bara yang dulu indah dan asri kini telah terlihat kumuh akibat bangunan-bangunan liar yang mulai bermunculan.

“Pengunjung juga mengeluh, apa lagi yang wisatawan manca negara sangat tidak suka dengan kondisi pantai Bara sekarang. Kalau seperti ini terus rencananya saya mau jual dan berinvestasi di tempat lain,” keluh pegusaha yang juga tidak mau disebutkan namanya itu.

Para pengusaha penginapan resmi yang tiap bulan membayar pajak daerah dengan segala macam bentuknya itu yang tentunya menjadi penyumbang PAD. Aspirasi mereka harus didengar dan disikapi. ***

Ali Saleng: Berkali-kali Ditegur, Mereka Kepala Batu

Kepala Dinas Parawisata, Ali Saleng, yang dikonfirmasi mengakui bahwa sejumlah bangunan yang terbangun di pesisir Pantai Bara memang ilegal. Ia juga membenarkan bahwa pihaknya telah menerima keluhan dari pengusaha penginapan di Pantai Bara terkait masalah tersebut.

Menurut Ali Saleng, pemerintah daerah telah merencanakan program untuk menata pesisir Pantai Bira hingga Pantai Bara. Namun Ali Saleng sendiri belum dapat memastikan bagaimana dan kapan program penataan pesisir pantai tersebut direalisasikan.

“Kalau realisasinya kami belum tahu. Ini sementara kita siapkan program untuk menata di bawah (pesisir pantai bara, red). Intinya Tidak boleh ada bangunan di bawah,” ujar Ali Saleng.

Terkait bangunan-bangunan liar yang saat ini menjamur, Ali Saleng mengungkapkan bahwa pihaknya telah memperingati pemilik bangunan. “Saya sudah komunikasi dengan mereka (pemilik bangunan liar, red), tapi memang mereka kepala batu,” ungkap Ali Saleng. ***