Beranda Bulukumba HOAX! Bukti Vaksin Jadi Persyaratan Administrasi

HOAX! Bukti Vaksin Jadi Persyaratan Administrasi

•  Penulis : | Kamis, 29 Juli 2021, 9:34 WITA

Kegiatan vaksinasi di Kabupaten Bulukumba.

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Informasi yang menyebutkan bahwa persyaratan administrasi membutuhkan bukti vaksinasi Covid-19 beredar di publik khususnya di Kabupaten Bulukumba.

Bahkan beberapa warga yang mengikuti program vaksinasi Covid-19 mengaku ingin divaksin karena menganggap sertifikat atau kartu vaksin akan menjadi dokumen yang wajib dilampirkan jika mengurus sesuatu.

“Sejujurnya saya tidak mau divaksin karena saya punya riwayat diabetes. Tapi kalau mau urus SIM atau KTP katanya harus pakai kartu vaksin,” ungkap salah seorang warga yang ditemui RADAR SELATAN yang enggan identitasnya dipublikasikan.

Bukti vaksin sebagai persyaratan administratif merupakan informasi yang keliru. Pasalnya sampai saat ini tidak ada kebijakan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah baik itu pusat maupun daerah terkait hal tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Kasie Survailans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Bulukumba, Wahida, bahwa Pemerintah hinga kini belum menetapkan sertifikat vaksin Covid-19 sebagai syarat administrasi.

“Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah memastikan kabar tersebut adalah berita bohong atau hoaks karena sertifikat vaksin Covid-19 belum digunakan untuk menjadi persyaratan administrasi apapun,” tegas Wahida.

Hal senada juga disampaikan oleh Kasat Lantas Polres Bulukumba, Iptu Andhika Trisna Wijaya, bahwa untuk mengurus Surat Izin Mengemudi tidak dibutuhkan sertifikat Vaksin sebagai syarat.

“Sampai sekarang tidak ada kebijakannya. Jadi bagi masyarakat yang mau urus SIM tidak perlu membawa bukti vaksin. Untuk urus SIM persyaratannya tidak ada yang berubah cukup bawa kartu identitas dan surat kesehatan,” terang Andhika.

Seperti yang telah dijelaskan oleh narasumber di atas sudah bisa dipastikan bahwa informasi soal bukti vaksin untuk persyaratan administrasi merupakan informasi yang tidak benar. (ewa)