Beranda Hot News Situasi Makin Berat, IDI: Saatnya Pemprov dan Pemkot Kompak Urus Covid-19 

Situasi Makin Berat, IDI: Saatnya Pemprov dan Pemkot Kompak Urus Covid-19 

Senin, 2 Agustus 2021, 12:07 WITA

Prof Idrus Paturusi

MAKASSAR, RADAR SELATAN – – Melihat data serta kondisi lapangan yang menunjukkan kasus Covid-19 di Sulsel terutama di Kota Makassar makin berat, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar, Siswanto Wahab angkat suara. Ia meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemkot Makassar kompak mengurus warga yang terpapar virus Covid-19.

Kondisi Sulsel menurut Siswanto sudah darurat. Update Covid Sulsel

dilansir dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di akun sosial media Twitter @BNPB_Indonesia, Minggu (1/8/2021) menunjukkan jumlah terkonfirmasi masih berada di angka 700-an.

Terlihat, provinsi dengan angka penambahan pasien terkonfirmasi terbanyak yakni, Jawa Tengah 4.234 pasien. Diikuti Jawa Timur 3.671 pasien, Jawa Barat 2.729 pasien, Jakarta 2.701 pasien, Kalimantan Timur 1.716 pasien dan Banten 1.325 pasien. Sementara Sulawesi Selatan di angka 796 pasien. Angka tersebut turun dari sehari sebelumnya di angka 1.268 pasien dengan pusat epicentrum ada di kota Makassar. “Banyak pasien OTG atau gejala ringan melakukan isolasi mandiri tiba-tiba kritis bahkan sampai meninggal dunia sehingga perlu adanya sinergi yang kompak pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar serta kabupaten / Kota lain di Sulawesi selatan,” ujarnya.

“Dulu isolasi mandiri tidak ada keluhan, sekarang kasusnya tidak ada keluhan awalnya tapi di pertengahan berat, kritis sampai meninggal. Ini harus diperhatikan,”  tambah Siswanto.

Saat ini sedang terjadi lonjakan kasus yang tinggi, diprediksi akan berlangsung hingga akhir Agustus mendatang. “Saya lihat sekarang ada ribuan orang terkonfirmasi, sementara kapasitas RS tidak mencukupi. Mau dikemanakan semua pasien ini, kenapa lamban penanganan dari Pemprov Sulsel,” tegas dr Anto yang juga Wakil Ketua Persatuan Rumah Sakit Sulsel ini. Ia menyebutkan Bed Occupancy Rate (BOR) ICU Sulsel sudah penuh.

Artinya banyak pasien yang mengalami kritis. Siswanto menyebutkan, banyak masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan tapi tak mampu mengakses layanan tersebut.

Misalnya program isolasi mandiri di Asrama Haji Sudiang yang dilaunching pekan lalu. Program tersebut dinilai belum berjalan efektif dan sosialisasinya kurang dan masyarakat juga dipersulit masuk di tempat isolasi tersebut.

“Coba berapa sekarang yang dirawat di sana, berapa banyak? Harusnya Pemprov Sulsel mengajak masyarakat untuk ikut isolasi, sampaikan ke mereka bagaimana prosedurnya, jangan dipersulit. Bahkan pembukaan isolasi terintegrasi ini sedikit terlambat, “ tutur Siswanto.

Dewan Pertimbangan IDI Kota Makassar, Prof Dr dr Idrus Paturusi, menambahkan saat ini pentingnya sinergi baik pemerintah Provinsi Sulsel, Kota Makassar dan kabupaten serta kota lainnya semua punya niat baik melawan Covid-19 . Semua perlu duduk bersama sebab yang ditakutkan melihat data, baik peningkatan kasus baru maupun kematian dan penggunaan RS (Rumah Sakit) yang semua full dengan varian baru

“Yang ditakutkan saat ini dokter bersama nakes sudah berjatuhan maka pelayanan bisa lumpuh , harus ada upaya ekstra dari pucuk pimpinan di semua level, “ pungkas Prof Idrus .

IDI Makassar sarankan di Makassar diperbanyak dibuka balai diklat sebagai tempat isolasi. Karena program Isolasi Apung pun belum berjalan. Belum lagi, Pemerintah Kota Makassar serta pemerintah propinsi harus meningkatkan tracing dan testingnya.

Dengan pertumbuhan kasus yang mencapai seribu orang per hari, tentu penyebarannya sangat meluas. “Perlu deteksi masyarakat yang berpotensi terpapar,” tegasnya. ***