Beranda Bulukumba Vaksinasi Lengkap baru 10,1%, Bulukumba Masih Jauh dari Herd Immunity

Vaksinasi Lengkap baru 10,1%, Bulukumba Masih Jauh dari Herd Immunity

•  Penulis : | Kamis, 16 September 2021, 9:27 WITA

BULUKUMBA, RADAR SELATAN — Program vaksinasi Covid-19 dosis ke-2 di Kabupaten Bulukumba baru mencapai 10,1 persen dari total sasaran vaksin sebanyak 346.759 orang. Data ini terungkap Selasa, 14 September 2021.

Kasie Survailans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Bulukumba, Wahida memaparkan, total sasaran vaksin sebanyak 346.759 orang namun yang telah divaksin untuk dosis pertama baru 61.695 atau 17,8 persen, sedangkan untuk dosis kedua baru 34.919 atau baru 10,1 persen. Sementara untuk dosis ke-3 khusus nakes baru 206 orang.

Realisasi vaksinasi lengkap di Kabupaten Bulukumba yang baru 10 persen lebih masih sangat jauh untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok.

Berdasarkan keterangan dari Epidemiolog Universitas Indonesia, Hasbullah Tabrany, setiap provinsi harus merampungkan vaksinasi covid-19 hingga dosis kedua di angka 70 persen populasinya untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok.

“Kalau di sebuah provinsi sudah 70 persen divaksin, sehingga peluang virus menyebabkan sakit jadi semakin kecil,” kata Hasbullah seperti yang dilansir di CNNIndonesia.com.

Hasbullah mengatakan, ketika 70 persen populasi sebuah provinsi sudah divaksinasi, maka peluang virus masih menularkan tinggal 9 persen.

Perhitungan itu diambil dengan mengalikan 30 persen populasi yang berpotensi menularkan, dengan 30 persen populasi yang juga berpotensi ditularkan.

Menurut Hasbullah, herd immunity masih bisa dicapai meskipun tidak pada waktu bersamaan di seluruh provinsi. Ia mengatakan dengan begitu, keamanan wilayah tersebut dari virus sudah terjamin.

Terpenting, sambung dia, seluruh tenaga kesehatan di provinsi tersebut sudah divaksinasi, karena kelompok ini menjadi yang paling rentan dengan bahaya covid-19.

“Kalau ada yang datang dari daerah lain, yang sudah punya imun tetap punya kesempatan untuk tidak sakit berat karena sudah divaksin. Jadi tidak menimbulkan bahaya besar,” tuturnya.

Hasbullah menilai tidak masalah jika daerah di luar Jawa dengan populasi yang tidak padat dan kasus yang lebih sedikit mencapai herd immunity belakangan.

Ia mengatakan lebih baik pemerintah fokus pada vaksinasi di daerah padat penduduk dengan laju penularan yang tinggi. Dengan begitu diharapkan pandemi dapat terkendali.

“Karena kepadatannya tidak tinggi, kasus tidak banyak, kalau herd immunity belakangan tidak menimbulkan banyak korban,” tambah Hasbullah.

Sementara itu, meskipun vaksinasi di Kabupaten Bulukumba masih jauh untuk mencapai herd immunity namun pemerintah daerah maupun Tim Satgas Covid-19 telah melonggarkan aktivitas masyarakat di Kabupaten Bulukumba.

Kadis Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Bulukumba, Daud Kahal yang juga selaku Jubir Satgas Covid-19 mengatakan bahwa kebijakan melonggarkan aktivitas masyarakat seperti aktivitas tempat usaha, tidak terlepas dari situasi Pandemi Covid-19 di Kabupaten Bulukumba yang dianggap telah melandai.

“Sekarang kondisi sudah mengarah ke level resiko rendah menuju level aman. Iya seperti itu (tempat-tempat usaha sudah bisa beroperasi seperti sediakala) tetapi kami tetap mengingatkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan,” terang Daud Kahal, Selasa, 14 September 2021. Data yang diungkap Daud Kahal bertolakbelakang dengan data yang dirilis Pemprov Sulsel di mana Kabupaten Bulukumba berada pada zona sedang bukan rendah karena masih ada temuan kasus positif Covid-19.

Jika ditemukan aktivitas yang mengarah kepada pelanggaran protokol kesehatan, menurut Daud pihaknya akan memberikan edukasi.

Daud mengungkapkan bahwa dalam penegakan protokol kesehatan Tim Satgas lebih mengedepankan edukadi dan sosialisasi tanpa melakukan tindakan tegas meski sekalipun itu pelanggaran Protkes telah dilakukan berulang-ulang.

“Sekarang ini dengan memperhatikan perkembangan (Pandemi Covid-19) cara itu (penindakan tegas, red) sementara tidak menjadi opsi. Karena ada indikator-indikator yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. (Di antaranya) zonasi, konfirmasi, Bed Occupancy Rate, dan data hasil tracing yang terus menerus dilakukan,” tukas Daud. (ewa)